Vaksinasi Mengurangi Tingkat Kesakitan Dikala Positif Covid-19

KBRN, Padang : Menjadi penyintas merupakan mimpi buruk yang menjadi kenyataan harus diterima oleh Sawal (28) seorang reporter televisi di Kota Padang.

Sawal kepada RRI di Padang, menceritakan, Mei 2021 lalu ketika itu ia mendapatkan tugas dari kantor untuk melaporkan penyekatan arus mudik di daerah Jawa Barat. Selama bertugas ia selalu disiplin menerapkan protokol kesehatan Covid-19.

"Namun karena harus bekerja di lapangan dan bertemu dengan banyak orang setiap harinya, ia tidak mengetahui kalau dirinya sudah terpapar Covid-19," ujarnya, Selasa (29/6/2021).

Sawal baru mengetahui telah terpapar Covid-19 setelah ia melakukan swab antigen sebagai syarat perjalanan karena harus kembali pulang ke Kota Padang. Saat melakukan swab antigen hasilnya menyatakan dirinya positif Covid-19.

"Ketika dinyatakan positif rasanya seperti tidak percaya dengan hasil itu," ujarnyam

Untuk meyakinkan diri, Sawal kembali melakukan pemeriksaan tes covid-19 lanjutan yakni PCR Swab. Selang menunggu sehari hasilnya keluar dan dinyatakan positif. Dengan kondisi tersebut pihak kantor menyarankan agar menjalani perawatan di Wisma Atlet, Jakarta.

Sesampainya di Wisma Atlet Sawal diperiksa keseluruhan, mulai dari keadaan fisik, hingga perkembangan virus yang ada di dalam tubuh. Hasilnya, CT Sawal berada di angka 13,31 yang artinya banyak kadar virus didalam tubuh.

"Dengan hasil itu, pihak dokter  heran karena saya masih dapat bernapas dengan lega dan tidak menggunakan ventilator," katanya.

Lanjutnya, dokter pun menanyakan, apakah Sawal sudah divaksin. Sawal pun menjawab telah divaksin dua bulan lalu sebelum dinyatakan positif Covid-19.

"Dokter mengatakan apabila saya belum divaksin, maka ia harus menggunakan ventilator sebagai alat bantu dan kondisi akan lebih parah," katanya.

Hal itu terjadi pada teman Sawal yang sesama dirawat di Wisma Atlet harus meregang nyawa setelah sepekan dinyatakan positif. Padahal kondisi CT teman Sawal sama dengan dirinya, tetapi karena belum divaksin tingkat keparahan dan kesakitan yang dialami jauh lebih tinggi.

Melihat kejadian itu, Sawal merasa beruntung karena sudah divaksin. Sawal berharap agar masyarakat tidak lagi menolak untuk dilakukan vaksinasi karena manfaat yang didapatkan untuk kesehatan diri sendiri dan keluarga.

Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Sumatera Barat dokter Pom Harry Satria mengingatkan agar masyarakat yang telah melakukan vaksinasi tetap disiplin mematuhi protokol kesehatan Covid-19 didalam keseharian. Sebab tidak menutup kemungkinan penerima vaksin Covid-19 masih dapat terpapar Covid-19.

"Orang yang divaksin bukan berarti kebal terhadap paparan Covid-19. Namun tingkat keparahan atau kesakitan akan jauh lebih ringan tiga kali lipat dibandingkan orang yang belum divaksin saat tertular Covid-19," katanya.

Menurutnya, mereka yang terpapar usai divaksinasi biasanya karena belum munculnya kekebalan tubuh secara sempurna. Setidaknya dibutuhkan waktu 14 hingga 28 hari setelah penyutikan ulang vaksin Covid-19 dosis kedua, dalam mencapai terbentuknya kekebalan tubuh secara sempurna.

Ketua IDI Sumatera Barat dokter Pom Harry Satria meminta agar semua pihak meluruskan terlebih dahulu pemahaman terkait vaksinasi. Sebab tujuan vaksinasi adalah membangun imunitas tubuh, dengan harapan kondisi akan jauh lebih kuat ketika tepapar Covid-19.

"Disiplin menerapkan protokol kesehatan masih menjadi kunci dalam menghadapi pandemi hingga terbentuknya kekebalan kelompok atau herd immunnity," katanya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00