Liuk Jemari yang Tak Berhenti Menari di Masa Pandemi

KBRN, Padang : Pandemi Covid19 bukan alasan  untuk tangan berhenti berkreasi dan  melahirkan ide  kreatif yang diselanjutnya dicurahkan melalui  serangkaian inovasi. Selagi  ada niat, tidak satu pun yang bisa menghalangi seseorang untuk bisa berkarya sesuai kemampuan dan potensi yang mengalir dalam diri. Terbukti, bermacam  kerajinan tangan  dihasilkan  kelayan dari Panti Sosial Bina Mitra – PSBN Tuah Sakato Padang masih  dalam situasi pandemi Covid19.

Berbekal kemauan dan keyakinan diri, kelayan berkiprah mengasah kemampuan demi mewujudkan mimpi yang sederhana, namun meluluhkan jiwa. Demi kemandirian yang ingin diraih, kelayan menempa diri dip anti  selama bertahun –tahun.

Amna, remaja berusia belasan tahun  ini memang  belum begitu lama tinggal di panti.  Keterbatasan fisik yang dimiliki tak membuatnya patah semangat atau kehilangan harapan hidup. Diusianya yang masih belia, Amna yang tidak  lagi memiliki  keluarga, optimis merangkai hari. Keceriaan selalu mengisi hari-harinya.  Bersama rekan sebaya, Amna  ketika itu  asik memainkan jemari, merenda aneka manik untuk disulap menjadi sebuah benda  dengan tampilan yang dibuat sedemikan rupa.

Dengan telaten,  jemari tangannya  menyusun manik-manik berwarna pada kotak empat persegi panjang yang  telah dipola. Sesekali instruktur  yang berdiri disebelahnya mengarahkan gadis  manis itu untuk merapikan susunan manik agar menyatu dengan pola yang sudah dibentuk.

Sementara di sebelah Amna, Tio yang juga  penghuni PSBN Tuah Sakato asik mengayam rotan, membentuknya hingga  menjadi sebuah  benda yang dinamai vas bunga. Jemari tangan Tio  begitu  lincah memainkan anyaman  yang terbuat dari rotan  itu dan  sesekali ia berhenti sembari menatik nafas panjang. Dalam  hitungan waktu yang tidak begitu lama, ia  berhasil  menyelesaikan sebuah karya yakni  vas bunga kecil yang kemudian diberi warna untuk mnempilkan kesan yang lebih cantik dan menarik.

Begitulah aktifitas sehari – hari  penghuni PSBN Tuah Sakato. Di ruangan yang tidak terlalu besar itu, anak-anak berkebutuhan khusus merenda waktu. Mereka yang awalnya tidak paham  apa pun  tentang bekal kehidupan, perlahan diajari dan dibekali pengetahuan dasar untuk memulai kehidupan yang mendiri dan  tidak bergantung  kepada orang lain.

“Awalnya  memang dibutuhkan kesabaran untuk menempa anak-anak panti yang berasal dari bermacam latar belakang kehidupan sosial itu. Namun seiring berjalannya waktu, anak-anak itu mulai paham, betapa mereka butuh yang namanya pengetahuan dan keterampilan untuk bisa menjalani kehidupan di luar panti,” ujar Dina, salah seorang instruktur dan juga pegawai PSBN yang telah puluhan tahun mengabdikan diri.

Dina menuturkan, tidak sedikit  usaha kerajinan tangan anak panti yang telah dipasarkan ke lingkup masyarakat, diantaranya bazaar handycraft yang dilaksanakan di Kantor Gubernur Sumatera Barat seminggu jelang Idul Fitri 2021.

Di bazaar tersebut ditampilkan aneka produk kerajinaan tangan anak-anak panti, diantaranya tempat tisu yang terbuat dari manik, vas bunga dari anyaman rotan ,  aneka bunga yang berbahan dasar plastik dan lainnya. Kesemua itu lahir dari kegigihan dan semangat pantang menyerah yang selalu ditumbuhkan untuk mereka bisa mewujudkan mimpi usai menjalani masa pembinaan.  

Kegigihan yang berbuah manis juga dirasakan Basirun, pemuda berusia 25 tahun ini salah satu dari 13 kelayan yang  telah dinyatakan lulus terminasi  Panti Sosial Bina Netra – PSBN  Tuah Sakato beberapa waktu lalu.

Tidak sia-sia pengorbanannya meretas impian dalam rentang waktu tiga tahun. Rasa pesimis yang dirasakan awal melangkahkan kaki ke panti  telah menjelma menjadi sikap optimis.  Kekhawatiran orang tua, kelak anaknya akan menjadi beban lingkungan,  pupus sudah.  Yang ada, Basirun kini telah menjelma menjadi pribadi tangguh, mandiri dan penuh prestasi.

Usai menjalani masa pembinaan di panti, Basirun tidak berdiam diri. Di Kampung halamannya, Kota Pariaman, anak pertama dari tiga bersaudara ini mendirikan klinik pijat yang lama dicita-citakan.

“ Saya tidak merasa hidup sendiri lagi. Panti telah membentuk pribadi saya jauh lebih baik.. Dengan  tangan  ini, saya bisa berusaha,  menghidupi diri sendiri dan sekaligus   memupus kekhawatiran pihak keluarga akan beban yang mereka pikul kelak,” ungkapnya kepada RRI, Kamis, (3/06/2021).

Di klinik yang belum lama berdiri, Basirun melayani tamu-tamu yang datang  dari berbagai daerah. Kemahiran tangan Basirun memijat sudah tidak  diragukan lagi.   Ia termasuk salah seorang  kelayan berbakat yang selama masa pembinaan telah meyakinkan instruktur akan kemampuan yang dimilikinya. Usai masa pembinaan, Basirun tidak kehilangan arah. Berbekal  potensi dalam diri, ia merintis karya dengan mendirikan klinik pijat di  tanah kelahiran. Alhasil, pada saat jutaan orang kehilangan pekerjaan, Basirun justeru tetap bisa berkarya di lingkungannya.

Pandemi Covid19 tidak membuatnya kehilangan arah dan berpasrah diri menerima keadaan. Berbekal kemampuan yang dimiliki, Basirun membuktikan keberadaannya  kepada keluarga bahkan masyarakat  yang  dengan keterbatasan fisik  tetap berupaya  mengarungi pandemi Covid19.  

Hal senada diungkapkan Kepala Dins Sosial Sumatera Barat, Jumaidi. Kepada RRI, Jumat, (3/06/2021), ia menuturkan, pentingnya nilai-nilai  kesabaran   dalam  menggembleng anak-anak berkebutuhan khusus yang pada satu sisi memiliki banyak kelebihan .

''PSBN Tuah Sakato  telah banyak menghasilkan kelayan yang matang dan mandiri di tengah pandemi. Dengan kemampuan yang dimiliki, kelayan yang lulus uji terminasi berjuang keras menafkahi diri dan keluarga,'' ujar Jumaidi.

Bukan hal mudah bisa meyakinkan masyarakat menggunakan jasa para penyandang disabilitas. Persaingan bisnis dan  jasa yang semakin ketat, menjadikan kualitas pelayanan sebagai nilai ukur pelayanan.  Pemerintah berkewajiban membina anak-anak ini agar bisa berkompetisi dengan berbekal  fasilitas yang  disediakan. Alhasil, kelayan  yang sudah keluar panti dan membuka klinik  pijat banyak dicari pelanggan.  Untuk saat ini,  pijak bukan lagi sekedar kebutuhan sampingan, orang-orang yang hidup di perkotaan dengan rutinitas yang cukup tinggi malah  membutuhkan layanan jasa pijat  demi  memenuhi kebutuhannya.

''Sebagian besar anak berkebutuhan khusus yang dibina PSBN Tuah Sakato memulai pendidikan dari nol. Banyak diantaranya yang menjadi korban keegoisan sikap orang tua dan keluarga,'' ungkap Jumaidi.

Rasa malu karena takut menerima caci maki membuat sebagian orang tua kadang tega  menyembunyikan keberadaan sang anak. Hal itulah yang mendorong pihak panti menerapkan sistem jemput bola, mendatangi rumah-rumah penyandang disabilitas demi merangku keberadaan anak-anak tersebut. Sebagian penyandang disabilitas yang didatangi pihak panti berdomisili di luar Kota Padang. Dari 19 kabupaten dan kota yang menjadi target penyelenggaraan program,  Mentawai satu-satunya yang susah dijajaki. Selain akses transportasi yang sulit dan terbatas, Jumaidi mengakui, daerah tersebut pun boleh dikatakan  tidak pernah mengajukan permintaan  pembinaan anak-anak disabilitas.

Kepala UPTD PSBN Tuah Sakato, Erliza Riawati  mengatakan, rasa percaya diri dan kegigihan menekuni profesi telah mengantar anak-anak tersebut sampai pada jenjang kemandirian. Keterampilan praktis yang ditekuni menjadi ujung tombak menopang kerasnya alur kehidupan. Sebagian mereka telah mendirikan klinik  pijat yang tersebar pada berbagai daerah seperti Jambi, Pekanbaru, Batam dan kota lainnya.  Tidak sia-sia pengorbanan guru-guru yang dengan kesabarannya menggembleng anak-anak yang awalnya awan dalam segala hal.

Cucuran keringat  telah berbayar dengan kepuasan, perasaan haru menyeruak dada para guru  manakala melihat anak didiknya  berhasil menyelesaikan masa pendidikan dan membangun kemandirian pada  bidang keahlian yang ditekuni. Tiada yang lebih membahagikan  selain melihat  mereka  bisa berdiri dengan kaki sendiri. Menatap  indahnya dunia dengan tangan yang tidak berhenti berkarya demi inovasi dan sejuta mimpi.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00