Melakukan Gerakan Spontan, Kenali Gejala Sindrom Tourette

KBRN, Padang : Sindrom Tourette adalah penyakit neuropsikiatri yang membuat pengidapnya melakukan gerakan secara tiba-tiba, berulang, dan spontan. Selain itu, pengidap sindrom Tourette juga dapat mengeluarkan suara abnormal tanpa bisa mengendalikannya. 

Gangguan kesehatan yang ditemukan oleh Georges Albert Edouard Brutus Gilles de la Tourette ini muncul pada usia 2-15 tahun dan lebih banyak terjadi pada anak laki-laki daripada perempuan. 

Perilaku gerakan atau ucapan yang dikeluarkan secara tiba-tiba, cepat, berulang dan spontan yang muncul pada pengidap disebut dengan istilah tic. Kondisi tersebut umum terjadi pada anak, tetapi seharusnya tidak sampai satu tahun. Sementara untuk anak dengan sindrom Tourette menunjukkan tic hingga lebih dari satu tahun. 

Penyebab Sindrom Tourette

Hingga kini belum diketahui penyebab pasti dari sindrom Tourette. Namun, anak laki-laki dan adanya riwayat anggota keluarga yang pernah mengidap sindrom tersebut, memiliki risiko lebih besar untuk mengalami sindrom Tourette. 

Para peneliti menduga beberapa hal berikut ini berperan dalam munculnya sindrom Tourette:

Neurologik

Anak dengan sindrom Tourette memiliki cacat pada struktur, fungsi, atau zat kimia pada otak. Meski demikian, teori ini belum bisa dipastikan kebenarannya karena belum ada penjelasan yang lebih mendetail.

Genetik atau Keturunan

Orangtua yang memiliki gen abnormal diduga turut meningkatkan risiko anak mengidap sindrom Tourette.

Lingkungan

Jika selama masa kehamilan, ibu mengalami stres, anak mungkin berisiko terkena sindrom Tourette. Proses persalinan yang kurang lancar dan berlangsung lama juga meningkatkan risiko munculnya masalah kesehatan tersebut. 

Selain itu, kondisi fisik bayi saat lahir juga diduga bisa menjadi penyebab kemunculan sindrom Tourette, misalnya berat badan rendah. Sementara penyebab lainnya termasuk infeksi kuman streptococcus, tetapi perlu dilakukan studi lanjutan untuk membuktikannya.

Gejala Sindrom Tourette

Gejala sindrom Tourette bisa diketahui dari perilaku yang dilakukan tanpa sengaja atau tic. Ada dua jenis tic yang umum dilakukan oleh pengidap sindrom Tourette:

Vocal Tics

Perilaku membuat suara-suara yang singkat (simple vocal tics), seperti suara gerutuan, batuk, menggonggong, dan lain-lain. Bisa juga mengeluarkan suara yang lebih panjang (complex tics), seperti mengulang perkataan orang lain (echo phenomena) atau mengulang perkataan diri sendiri (palilalia). 

Motor Tics

Perilaku membuat gerakan berulang yang melibatkan gerakan otot yang sedikit (simple tics), seperti menggelengkan kepala, mengedipkan mata, mengedutkan bibir, dan lain-lain. Pengidap bisa juga membuat gerakan yang melibatkan beberapa otot sekaligus (complex tics), seperti lompat, berputar, menepuk, dan lain-lain.

Perilaku tic yang terjadi secara spontan dan tidak bisa dikendalikan, membuat sebagian besar pengidap sindrom Tourette kesulitan bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. 

Terlebih jika tic disertai dengan gejala perilaku lainnya yang bisa mengganggu orang lain, seperti mengeluarkan umpatan kotor, vulgar, dan tidak sopan secara sengaja (koprolalia), serta perilaku yang tidak pantas dilakukan.

Gangguan yang Ditemui pada Anak dengan Sindrom Tourette

Biasanya, anak dengan sindrom Tourette menunjukkan beberapa masalah yang berkaitan dengan perilaku, seperti:

Sebanyak 6 dari 10 anak dengan sindrom Tourette juga mengalami ADHD (attention deficit hyperactivity disorder) atau gangguan perilaku hiperaktif.

Sebanyak 1-2 dari 10 anak pengidap sindrom Tourette mengalami gangguan tingkah laku (conduct disorder) yaitu suka melawan dan berperilaku kasar.

Sebanyak 5 dari 10 anak pengidap sindrom Tourette juga mengalami OCD (obsessive-compulsive disorder), yaitu berpikiran obsesif dan berperilaku kompulsif.

Sebanyak 2 dari 10 anak pengidap sindrom Tourette mengalami gangguan perubahan suasana hati. Mereka bisa merasa sangat cemas dan bahkan depresi. 

Sebanyak 3 dari 10 anak pengidap sindrom Tourette bisa melukai dirinya sendiri, seperti memukul-mukul diri.

Sebanyak 3 dari 10 anak pengidap sindrom Tourette mengalami kesulitan belajar.

Pengobatan Sindrom Tourette

Sayangnya, sindrom Tourette tidak bisa disembuhkan. Namun, beberapa cara berikut bisa membantu mengendalikan kemunculan tic:

Terapi Psikologis

Terapi psikologis dapat membantu mengendalikan atau mengurangi perilaku tic pada anak. Beberapa terapi yang bisa dilakukan adalah latihan pembalikan kebiasaan, CBT (cognitive behavioural therapy), dan terapi pencegahan eksposur dan respons.

Edukasi dan Dukungan

Mencari tahu sebanyak mungkin informasi mengenai sindrom Tourette dapat membantu menentukan perawatan terbaik untuk anak pengidap sindrom Tourette. Bergabung bersama kelompok konsultasi sehingga dapat saling berbagi informasi dan pengalaman dengan pengidap lainnya. Edukasi dapat juga diberikan kepada guru dan orangtua murid di sekolah agar tercipta lingkungan yang positif dan bisa mendukung perkembangan pengidap.

Obat-obatan

Obat-obatan golongan antipsikotik dan clonazepam (suatu obat golongan benzodiazepine) biasanya diberikan kepada anak dengan sindrom Tourette yang cukup parah. Tujuannya untuk mengurangi terjadinya tic, sehingga anak dapat melakukan aktivitas dengan baik.

Bedah

Prosedur bedah hanya direkomendasikan bagi pengidap sindrom Tourette yang parah dan sudah menjalani terapi, tetapi tidak membuahkan hasil. Prosedur dilakukan dengan menanamkan elektroda pada otak pengidap yang berfungsi merangsang reaksi otak dalam.

Meski masih banyak pro dan kontra mengenai prosedur penanganan sindrom Tourette, anak-anak dengan sindrom ini masih memiliki kemungkinan untuk membaik seiring berjalannya waktu. 

Beberapa anak menunjukkan pengurangan gejala yang muncul, bahkan menghilang seiring bertambahnya usia. Meski begitu, sebagian anak yang lain menunjukkan gejala yang tetap ada hingga dewasa. 

@halodoc

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar