Kearifan Lokal Minang “Alam Takambang Jadi Guru” Atasi Ketergantungan Impor Bawang Putih

KBRN,Padang; Kearifan lokal Minangkabau Sumatera Barat “Alam Takambang Jadi Guru“ atau alam terkembang menjadi guru, memiliki arti penting dan sangat strategis untuk mencari jalan keluar ketika bangsa ini dihadapkan pada masalah ketergantungan bawang putih impor dari China.

Bagi masyarakat Minang yang tinggal di Padang dan berbagai daerah di Sumatera Barat, bawang putih merupakan hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari terutama untuk kelengkapan bumbu berbagai jenis masakan. Apalagi wilayah ini dikenal dengan sajian berbagai jenis kuliner yang lezat dan mengundang selera, diantaranya berupa masakan rendang maupun gulai.

Salah seorang pengurus Bundo Kanduang Alam Minangkabau Provinsi Sumatera Barat, DR Maiyulnita,MSi menyayangkan mengatakan, hingga kini masyarakat Indonesia termasuk di ranah Minang Sumatera Barat masih sangat tergantung bawang putih impor dari China. Sementara saat ini, komoditas bawang putih di pasaran melejit harganya sebagai dampak ditutupnya  impor dari China terkait pencegahan penyebaran virus Corona.

Menurutnya, persoalan ketergantungan bawang putih impor itu sebenarnya bisa menjadi momen penting dan hikmah tersendiri bagi pemerintah dan masyarakat, untuk lebih mengembangkan kearifan lokal dan potensi budidaya bawang putih sendiri yang justru akan memberikan banyak manfaat secara luas.

“Ketersediaan sumberdaya alam berupa lahan di Sumatera Barat sangat subur, masyarakatnya juga banyak, sehingga sudah saatnya, bangsa ini mengembangkan bawang putih di negeri sendiri tanpa harus tergantung impor. Bahkan rumah tangga pun bisa melakukan, sehingga saya mengajak masyarakat Sumatera Barat untuk menanam bawang putih di sisa tanah atau pekarangan rumah masing – masing. Orang minang ini kan selalu hidup menyatu dan bersahabat  dengan lingkungannya bahkan juga diajarkan mengambil pelajaran dari segala kejadian yang ada di alam ini, sebagaimana filosofi hidup orang Minang “ Alam Takambang Jadi Guru “ ( alam terkembang jadi guru ),” jelasnya kepada RRI, Selasa (11/02/2020).

Bundo Kanduang Maiyulnita  sangat menyayangkan, Indonesia yang kaya akan alam dan lingkungannya masih saja terbentur pada persoalan kecukupan kebutuhan bahan pangan termasuk bawang putih yang tergantung Negara lain. Saat Negara pemasok itu dirundung masalah, dalam hal ini China yang menjadi pandemi virus mematikan Corona, semuanya menjadi panik dan kebingungan karena banyaknya ketergantungan produk-produk dari negeri tirai bambu itu.

“Mestinya kita ini lebih bangga dengan hasil bumi negeri sendiri, sehingga ketika terjadi kelangkaan atau mahalnya kebutuhan seperti bawang putih ini, kita sudah memiliki tanaman sendiri dan hasilnya bisa dinikmati. Bak kata ajaran pepatah Minangkabau ; 

Maminteh Sabalun Anyuik, Malantai Sabalun Lapuak, Ingek – ingek Sabalun Kanai, yang berarti “memintasi sebelum hanyut, mengganti lantai sebelum lapuk, dan ingat – ingat sebelum tertimpa sesuatu “  ujarnya. 

Keberadaan bawang putih, bagi masyarakat Minang, ternyata juga memiliki nilai tradisi yang begitu khas dan unik khususnya dalam melindungi anak bayi.

Sejak jaman dahulu sampai sekarang, ada semacam mitos yang berkembang di ranah minang ini, ada semacam mitos bahwa bawang putih terutama bawang tunggal atau disebut dusun tungga, bisa digunakan sebagai “ Tangka Palasik “ ( penangkal palasik) untuk melindungi anak bayi.

“Bagi masyarakat minang, bawang putih juga memiliki arti tersendiri untuk kebiasaan dan bagian tradisi dalam menjaga dan melindungi anak-anak dari berbagai ancaman keselamatan.

Ada mitos, bawang putih itu sebagai Tangkal Palasik, atau semacam pengusir roh halus, sehingga sering diselipkan pada baju yang dikenakan bayi. Namun bukan itu maksudnya, karena keselamatan ada pada kehendak Alloh Swt. Yang pasti, bawang itu memunculkan aroma menyengat, sehingga bisa melindungi bayi atau anak kecil dari serangan nyamuk atau serangga yang bisa membahayakan keselamatan anak,” tandas Maiyulnita. (Hathwarman- Pro4 RRI Padang)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00