Aplikasi Tik Tok, User-nya Kreatif, User-nya Tidak Bijak

Mishbah El Yaser

Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Andalas

2019/2020

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) kini semakin memudahkan penggunanya untuk dapat berkomunikasi. Sebagai kunci utama pesatnya teknologi komunikasi, internet berhasil menjadikan proses komunikasi berlangsung cepat tanpa memikirkan batasan ruang dan waktu, Masyarakat dengan mudahnya bisa membagikan dan mendapatkan informasi secara langsung dengan perangkat gawainya yang terkoneksi jaringan internet.

Tidak hanya sebatas informasi, bahkan membagikan sesuatu yang dibuat dengan kreativitas dapat dilakukan melalui aplikasi pada smartphone masing-masing. Masyarakat pastinya mengetahui jika media sosial adalah media tempat berbagi informasi, berbagi aktivitas keseharian, dan juga sebagai sarana berbagi konten-konten hiburan. hal-hal yang berkaitan dengan kreativitas. Khalayak sebagai pengguna internet tidak hanya berperan sebagai pencari dan penikmat informasi, khalayak juga bisa berperan sebagai kreator informasi dan juga kreator konten hiburan.

Saat ini, TikTok hadir sebagai media distribusi konten di tengah-tengah masyarakat. Sedikit informasi bahwa TikTok merupakan aplikasi buatan China yang diluncurkan di Indonesia pada September 2017. Aplikasi ini merupakan salah satu aplikasi paling banyak diunduh dari App Store. Penggunaan aplikasi ini cukup mudah. Seseorang hanya perlu merekam video dengan durasi 15 detik, kemudian video tersebut dapat ‘didandani’ dengan berbagai fitur seperti filter, musik, ataupun berbagai efek visual yang menarik.

Kehadiran TikTok sebagai aplikasi komunitas video awalnya ditujukan sebagai sarana penunjang kreattivitas seseorang untuk berkarya. TikTok menjadikan seseorang berani mengasah kemampuan menari, beradegan, dan membentuk koreografi yang keren. Di Indonesia, TikTok menjadi tempat berkreasi yang amat digandrungi oleh kalangan remaja yang berusia 11-15 tahun di mana mereka adalah pasar yang potensial bagi perusahaan pengelola TikTok.

Selain kalangan remaja, orang-orang dewasa kini juga menggunakan aplikasi TikTok. Mereka berlomba-lomba membuat konten yang semenarik mungkin hingga mereka berharap konten mereka menjadi viral di dunia maya. TikTok akan menjadi aplikasi yang bermanfaat apabila para kreatornya menciptakan tampilan yang menginspirasi, salah satunya yang terbaru adalah kampanye cuci tangan sesuai arahan WHO yang diperagakan oleh kalangan dokter dari komunitas Alodokter. Merebaknya virus corona (COVID-19) akhir-akhir ini menjadikan masyarakat khususnya di Indonesia merasa khawatir dan was-was. Hal demikian menjadi dorongan oleh dokter-dokter dari komunitas Alodokter untuk memberikan informasi kepada masyarakat akan pencegahan virus corona (COVID-19), yaitu dengan memperagakan cara cuci tangan yang benar melalui pemanfaatan TikTok. Video TikTok mereka kini viral dan telah ditonton tiga juta kali dalam kurun waktu kurang dari seminggu.

Ibarat pisau bermata dua, TikTok bisa menjadi sarana penyaluran konten-konten yang tidak sedap. Mereka yang terlalu asyik menggunakan TikTok bahkan bisa sampai lupa waktu, tidak peka dengan kondisi lingkungan sekitar, bahkan kerap menyebarkan konten negatif. Pengguna TikTok seakan-akan terlalu menikmati aplikasi ini, alih-alih menciptakan video kreatif diiring musik, mereka rela menampilkan suatu tampilan yang melanggar norma, adegan, ekspresi, dan gerakan-gerakan yang kurang pantas diperlihatkan. Tampilan seperti membiarkan aurat terbuka, ekspresi bodoh dan konyol dan dilihat oleh banyak orang seakan menjadi hal yang lumrah. Konten yang demikian tergolong bermuatan negatif dan menjadi perdebatan.

Bagi seseorang yang kontennya berhasil viral di dunia maya, maka ia dianggap sebagai artis dadakan Tik Tok. Artinya ia diidolakan, dipuja-puja, bahkan dinomorsatukan oleh banyak pengguna TikTok, Mungkin masih segar dalam pikiran kita bahwa ada artis dadakan yang berawal dari penggunaan Tik Tok. Prabowo Mondardo atau dikenal sebagai Bowo Alpinlibe, adalah satu pengguna Tik Tok yang berhasil meraih kepopulerannya dan menjadi idola oleh kalangan remaja penikmat TikTok saat itu.

Dua tahun lalu, Bowo sempat viral karena postingan TikToknya menjadi bahan olok-olok oleh publik. Imbasnya tidak hanya kepada Bowo saja, TikTok pun tidak lepas dari cercaan publik saat itu. Bowo dan TikTok dicap alay dan aneh oleh netizen. Tapi itu dulu. Kini, saat Bowo tidak lagi popular, netizen seperti menjilat ludah sendiri. netizen baru-baru ini menggunakan dan  menikmati TikTok, ditandai dengan banyaknya postingan TikTok tersebar di berbagai platform media sosial. Melihat kondisi tersebut, tidak salah jika Bowo pernah menyampaikan komentar yang sangat menyindir, yaitu “Kalau dilihat-lihat sih ngakak. Dulu aku dibully, sekarang dia mendownload main Tik Tok ya kan. Aku sudah kering, dia baru nyebur. Ketawa aja sih melihatnya,"

Negara sempat terlibat dengan situasi pro kontra keberadaan TikTok. Keterlibatan negara dinyatakan pada tanggal 3 Juli 2018, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI sempat memblokir TikTok dengan beragam alasan. Pelanggaran seperti aksi pornografi, asusila, pelecehan agama, dan sebagainya menjadi alasan utama mengapa negara mengambil tindakan menutup akses TikTok.

Namun keputusan pemblokiran TikTok seperti tak sampai seumur jagung. Ibarat kama angin bahambuih, kasitu condongnyo, negara begitu cepat berubah pikiran, tidak teguh pada pendirian keputusannya. Tanggal 10 Juli 2018 Kominfo membuka blokir TikTok. Keputusan tersebut menjadikan publik bertanya-tanya apa latar belakang dibukanya blokir TikTok. Negara seperti tidak memberikan pernyataan resmi mengenai keputusan tersebut dan membuat beberapa kalangan menduga-duga apakah negara tergiur dengan pemasukan yang ditawarkan oleh TikTok sehingga hal tersebut mendorong negara meng-unblock aplikasi TikTok.

Secara umum, tidak ada salahnya seseorang menggunakan aplikasi TikTok. Idealnya TikTok dimanfaatkan sebagai sarana penyaluran kreativitas oleh penggunanya. Selama konten yang dibagikan mengutamakan hasil kreativitas dan dengan pertimbangkan norma sikap serta aturan yang berlaku, maka hal itu sah-sah saja Dengan menggunakan sejumlah fitur yang terdapat pada TikTok, maka sajian hiburan yang unik dan tidak membosankan menjadi hasil yang diharapkan. Frekuensi penggunaan TikTok menjadi hal yang perlu diperhatikan, karena dengan seringnya memposting video TikTok, mereka yang menonton pun akan merasa bosan dengan sajian yang itu-itu aja.

Ada satu hal yang harus diingat, bahwa terlalu larut atau menghabiskan waktu dengan berkutat pada aplikasi TikTok dapat menjadi sebuah perilaku buruk. Terlalu asik menggunakan TikTok akan menjadi sebuah kecanduan bagi penggunanya. Kecanduan yang memaksa penggunanya hanya karena ingin kontennya viral, dikhawatirkan mereka menampilkan postingan yang melanggar norma atau aturan. Terlebih kita yang berada pada era Industri 4.0 yang dikenal masyarakatnya sudah sangat melek dengan teknologi informasi dan komunikasi. Memanfaatkan teknologi komunikasi secara arif dan bijak mencerminkan ukuran kemajuan manusia saat ini. Terlalu menyibukkan diri dengan TikTok, menpertuhankan konten viral di dunia maya adalah bentuk rontoknya moral manusia yang ketergantungan dengan konten.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00