Ajax 1995 (2-Habis): Kemenangan Heroik Atas Milan

Patrick Kluivert mencetak gol kemenangan ke gawang AC Milan dalam Final Liga Champions Eropa 1995 di Wina, Austria (Luca Bruno/AP)

KBRN, Jakarta: Ajax Amsterdam tahun 1995, merupakan perpaduan sensasional antara pemain muda masa depan Tim Nasional Belanda serta masa depan filosofi sepakbola menyerang di dunia.

Produktivitas akademi Ajax sudah tak diragukan lagi dalam memproduksi pemain-pemain berkualitas. Dan ibarat sebuah rumah, Ajax kerap menjadi tempat berlabuh kembalinya para senior yang lama merantau di liga terkenal Eropa seperti Serie A Italia, Liga Primer Inggris, dan La Liga Spanyol, dan Bundesliga Jerman.

Kekuatan Ajax saat merengkuh juara Liga Champions Eropa 1995 adalah perpaduan antara pemain muda hasil binaan akademi dan para pemain senior baik lokal di Belanda maupun mereka yang kembali dari Liga Eropa dan hendak menutup karir di Eredivisi Liga Belanda.

Frank Rijkaard menjadi sosok sentral Ajax tahun 1995, dimana gelandang jangkar tersebut baru saja memutuskan tidak memperpanjang kontraknya di AC Milan. Dia pun langsung berkomitmen menerima pinangan klub yang membesarkan namanya, untuk menjadi mentor para pemain belia yang sedang meroket seperti Patrick Kluivert, Edgar Davids, Clarence Seedorf, Michael Reiziger, Winston Bogarde, dan Edwin Van der Sar.

Dan keputusan Rijkaard tersebut ternyata menjadi tikaman belati tepat di jantung Milan, klub yang membawa Rijkaard mengarungi gemerlap dunia sepakbola profesional selepas dari Ajax.

Final Menegangkan

Ajax Amsterdam datang ke Stadion Ernst-Happel, Wina, Austria, pada 24 Mei 1995, sebagai kuda hitam untuk menjawab tantangan AC Milan dalam Final Liga Champions Eropa.

BACA JUGA: Ajax Amsterdam 1995 (1): Perpaduan Sensasional

Tim inti klub besutan Louis Van Gaal tersebut dipimpin pemain senior, bek Danny Blind sebagai kapten tim. Dan jika Blind berhalangan, Rijkaard orang kedua penyandang ban kapten. 

Dua pemain senior yang sudah mendekati pensiun tersebut dipadukan dengan generasi emas Tim Nasional Belanda seperti winger Marc Overmars, striker Ronald de Boer, bek Frank de Boer, kiper Edwin Van der Sar, serta para pemain belia masa depan Tim Oranye seperti gelandang jangkar Edgar Davids, gelandang serang Clarence Seedorf, bek kanan Michael Reiziger, bek kiri Winston Bogarde, dan striker Patrick Kluivert.

Sebelum final kontra Rossoneri, Ajax telah mempertahankan gelar Eredivisie dan berpotensi menjadi yang tak terkalahkan di Belanda maupun Eropa. 

Kekuatan mereka sebagai kuda hitam Eropa semakin menakutkan kala menghantam Bayern Munchen 5-2 di leg kedua semifinal Liga Champions. Winger Finidi George dan Marc Overmars menjadi mimpi buruk bagi sayap-sayap Munchen. Dan itu berhasil menambah semangat serta suntikan moral sebelum menghadapi AC Milan di Ernst-Happel.

Winger Ajax Ronald de Boer berebut bola dengan striker Milan Marco Simone (Rudi Blaha/AP)

"Saya tidak ingat memiliki keraguan bahwa kami (akhirnya) bisa mengalahkan mereka (Milan)," kata Ronald de Boer, striker Ajax kala itu mengenai pertemuan mereka dengan Milan, seperti dikutip dari The Guardian, Senin (25/5/2020).

Sebagai tim yang tidak diperhitungkan sebelumnya, tentu saja ini menjadi ketegangan tersendiri buat seluruh pemain dan official Ajax. Namun hal itu ternyata berhasil cair dengan permainan yang luar biasa di lapangan hijau.

Sempat muncul kekecewaan, karena Patrick Kluivert, striker belia 18 tahun yangs edang naik daun, harus duduk di bangku cadangan dalam partai final melawan Milan. Lidwina, ibunda Kluivert sempat menggambarkan kekecewaan, akan tetapi Kluivert merespons keputusan itu dengan sangat bijak, karena partai final bertemu Milan bukan main-main. Apapun bisa terjadi, sehingga butuh pemain berpengalaman.

“Tentu saja sedikit kecewa, tetapi bisa dimengerti bahwa pelatih menginginkan pemain yang lebih berpengalaman di final. Anda harus siap dan saya sudah siap," kenang Kluivert.

Selanjutnya : Kemenangan Heroik

Halaman 1 dari 3

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00