Lirikan Mata Virgil van Dijk, Pesan Buat Duo Manchester

KBRN, Jakarta : Penggemar fanatik Manchester United (MU) pasti ingat Jaap Stam. Bek tengah jangkung botak berkebangsaan Belanda, berbadan kekar, temperamental dan sangat lugas menjaga area miliknya, yakni kotak penalti. Stam dibeli Setan Merah pada 1998 setelah ia berhasil tampil cemerlang sebagai pemain kunci di klub Belanda, PSV Eindhoven musim 1996-1997. Dengan 10,6 juta pound MU berhasil mendapatkan tanda tangan Stam dari PSV.

Treble winners MU pun terjadi di era Stam sebagai penjaga 'pintu neraka' di jantung pertahanan Red Devils. Saat itu, manajer Manchester United sekarang yaitu Ole Gunnar Solskjaer masih jadi pemain dan bahu membahu dengan Jaap Stam mengukir jaman keemasan MU dengan pemain-pemain generasi emas seperti David Beckham, Roy Keane, si kembar bek sayap Gary dan Phillip Neville, Paul Scholes, kiper Peter Schemeichel yang sama jangkung dan kekarnya seperti Stam.

Bayangkan formasi pemain MU kala itu, bukan? Benar-benar generasi emas hingga menuai prestasi emas pula.

Sekarang, Liverpool memiliki Virgil van Dijk, bek tengah jangkung seperti Stam, walaupun badannya tidak sama kekar, alias lebih kekar Stam. Mata Virgil juga tidak setajam Stam yang menakutkan para striker flamboyan lawan. Tapi masalah visi bermain dan membaca permainan lawan, keduanya adalah sama. Satu yang tidak dimiliki Stam adalah kurang produktif dalam urusan mencetak gol. Sedangkan van Dijk? Dia salah satu bek tengah Liverpool yang kerap mencetak gol, sama seperti bek tengah legenda The Kop, Sami Hyypia, pria jangkung asal Finlandia.

BACA JUGA: Liverpool Hantam MU 2-0 dan Detak Jantung Solskjaer

Cukup dengan sejarah, sekarang pertanyaannya, tahukah kamu bahwa Manchester United dan Manchester City juga pernah menginginkan tanda tangan Virgil van Dijk? Bayangkan kalau van Dijk berlabuh di salah satu klub tersebut, artinya sayonara The Reds. Karena sejak dahulu kala, permasalahan anak-anak Anfield adalah di sektor bek tengah. Selain Sami Hyypia dan Jamie Carragher, tak ada lagi pengganti mereka berdua. Salah satu absen, apalagi keduanya tidak main, hancurlah Liverpool.

Pembelian Virgil van Dijk yang kala itu berusia 26 tahun dari klub Inggris lainnya, Southampton pada 28 Desember 2017, memecahkan rekor transfer bek termahal di dunia. Bahkan Josep 'Pep' Guardiola menyebutkan kala itu, Virgil van Dijk merupakan bek dengan banderol transfer termahal dalam sejarah sepak bola dunia, karena harus ditebus Liverpool dengan uang 75 juta poundsterling atau sekitar Rp 1,3 triliun. 

Nah, saat itu, Pep Guardiola melatih Manchester City. Dan saingannya, yakni Jose Mourinho melatih di Manchester United. Keduanya ternyata menaruh minat yang sama sebenarnya terhadap van Dijk. Tapi sama-sama jaga gengsi, karena mereka belum melihat Liverpool sebagai saingan berat. 

Pep Guardiola menyebutkan kala itu, van Dijk terbilang tidak mahal karena ia bermain dengan kemampuan terbaiknya selama enam tahun bermain di sepak bola kasta teratas. 

"Jika bermain dalam level tertinggi, ia akan menjadi keputusan yang murah. Jika ia bermain dalam level yang rendah (performa buruk), ini akan menjadi mahal," tutur sang pelatih.

Sementara the special one, Jose Mourinho memilih untuk mencibir saja dengan kegagalannya mengejar van Dijk. Mourinho menyatakan bahwa tingginya harga van Dijk (bukan) karena performa yang selangit. Akan tetapi hanyalah hasil bentukan mekanisme pasar.

BACA JUGA: Liverpool Gilas MU 2-0, Blunder Strategi Solskjaer

Nah, saat ini, Liverpool akhirnya bisa tersenyum dengan keberhasilan mereka mendapatkan Virgil van Dijk. Nama The Reds sekarang harum sekali di eropa setelah tampil konsisten hingga menjadi juara Liga Champions Eropa, European Champions, hingga merengkuh Juara Antar Klub Dunia. Jika Manchester United bersama Jaap Stam meraih treble winners dengan dua piala lokal dan satu Liga Champions dalam satu musim yang sama, Liverpool bersama Virgil van Dijk berhasil merengkuh treble winners dengan dua gelar juara eropa dan satu gelar juara antar klub dunia juga dalam rentang musim kompetisi yang sama.

Dan hari ini, Senin, 20 Januari 2020, dalam foto jepretan Reuters seusai membobol gawang Manchester United, lirikan mata Virgil van Dijk seolah ingin membuktikan kepada publik Manchester, bahwa dirinya bukan bentukan mekanisme pasar seperti kata Mourinho. Dan ia juga bukan pemain yang harus diprediksi apakah sudah bermain dalam tatanan level rendah atau tinggi sehingga menentukan harga jual-beli seperti yang diungkapkan Pep Guardiola.

Bagi van Dijk, tanpa mengurangi rasa hormat kepada dua pelatih besar, yaitu Pep dan Mou. Dan tanpa mengurangi respect terhadap duo klub kota Manchester yang pernah menginginkan dirinya yakni Manchester United dan Manchester City. Pencapaiannya hanya satu, yakni level tertinggi bersama Liverpool. (Foto: Reuters)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00