Liverpool Gilas MU 2-0, Blunder Strategi Solskjaer

KBRN, Jakarta : Pertandingan Liverpool meladeni 'tamu agung' Manchester United berakhir dengan skor 2-0 untuk kemenangan Si Merah di Anfield, Senin (20/1/2020) pagi ini, Waktu Indonesia Barat.

Dua gol masing-masing dari sundulan bek tengah Virgil van Dijk yang memanfaatkan sepak pojok bek sayap muda Trent Alexander-Arnold pada menit 14, dan sepakan 'pangeran Mesir' Mohamed Salah pada menit 93 babak kedua, membuat Setan Merah menangis.

Dengan kemenangan ini, The Reds mengukuhkan posisinya sebagai pemuncak klasemen Liga Primer Inggris dengan 64 poin dari 22 pertandingan, sedangkan Red Devils menggantung di peringkat lima klasemen dengan 34 poin dari 23 kali pertandingan. Liverpool menjauh dari kejaran Manchester City, dan Manchester United bisa saja terancam dari Wolverhamptom (Wolves) yang ada di posisi enam klasemen dengan jumlah pertandingan dan poin yang sama dengan MU.

Saat pendukung Anfield berteriak 'Juara Liverpool', apakah mesti pendukung MU meneriakkan 'blunder Solskjaer'? Kenapa blunder?

Pertama, mari bicara keadaan dapur Ole Gunnar Solskjaer, si anak kesayangan Sir Alex Ferguson. Sebagai pelatih MU penerus suksesornya yakni Sir Alex Ferguson, Solskjaer besar dalam skema permainan khas Inggris yang dibanguna Ferguson sejak awal pria asal Skotlandia tersebut mengambil alih Setan Merah era 80-an.

Dua bek tengah jangkung di depan kiper, diapit dua bek sayap lincah yang siap over lapping dan bertahan sekaligus memberi dukungan terhadap dua sisi sayap yang siap menusuk dengan umpan-umpan diagonal dan horizontal melayani dua penyerang menakutkan haus gol, dua gelandang tengah yang menjaga ritme permainan dengan sistem pressing ketat. Itulah skema Ferguson selama Solskjaer masih menjadi pemain.

Menghadapi permainan satu-dua sentuhan seperti Barcelona maupun AC Milan, anak-anak Old Trafford masih unggul kala itu. Dan saat ini, permainan liga Inggris pun berubah dari ciri khas kick and rush menjadi permainan satu-dua kemudian menusuk deras secara tiba-tiba ke jantung pertahanan lawan. Itulah yang dimainkan Liverpool sejak era Rafael Benitez hingga akhirnya sekarang berada di tangan pria Jerman, Jurgen Klopp.

Melawan permainan pendek Liverpool, Solskjaer justru main melebar tapi tidak dengan empat bek di belakang, melainkan tiga bek sejajar, dua wing bek sayap, dua gelandang tengah, satu penyerang lubang, dan dua striker, yakni 3-4-1-2. Dan formasi ini merupakan makanan empuk bagi tim yang menggunakan skema menyerang 4-3-3 seperti Liverpool, Barcelona, sampai Manchester City. 

BACA JUGA: Liverpool Hantam MU 2-0 dan Detak Jantung Solskjaer

Sebagai catatan, jika pemain inti MU lengkap tanpa ada yang dibekap cedera atau tidak bugar, skema 3-4-1-2 sebenarnya bisa. Tapi keadaan kali ini dengan  mempercayakan sisi kiri kepada wing bek sayap berusia 19 tahun seperti Brandon Williams akhirnya menjadi blunder karena si pemain belia harus berhadapan dengan bek sayap kanan Liverpool yang jauh lebih kuat yakni Trent Alexander-Arnold, ditambah Alex Oxlade-Chamberlain yang lincah, Williams kebingungan. Sementara Luke Shaw yang ada di belakang Williams pastinya fokus mengawasi pergerakan Mohamed Salah yang juga kerap datang dari sisi kanan.

Saat Williams dan Shaw berantakan, Nemanja Matic di tengah tak bisa berbuat banyak karena ia harus bahu membahu dengan Fred dan Pereira menghadapi Jordan Henderson, Giorginio Wijnaldum, dan Chamberlain, serta Mohamed Salah juga sekaligus. Karena dua pemain ini memiliki karakter unik, setelah memporak-porandakan sektor sayap yang biasa mereka huni yakni di kanan, keduanya kerap menusuk ke tengah atau berpindah ke sisi kiri secara bergantian dengan sangat cepat.

Blunder Solskjaer Terbukti

Terbukti, gol pertama Liverpool lahir dari sepak pojok di sisi kiri pertahanan Manchester United. Williams dan Shaw ada di sisi itu, dan Alexander-Arnold, Salah, serta Chamberlain ada di sisi itu pula bukan?

Bukti kedua, gol Mohamed Salah berawal ketika sayap lincah asal Mesir itu solo run di sisi kanan pertahanan Manchester United, dimana saat itu ia berganti posisi dari kanan ke kiri saat terjadi kemelut di depan gawang Liverpool. Meminta bola dan dari sisi kiri lapangan The Kop atau sisi kanan pertahanan MU, Salah terus berlari, diikuti Brandon Williams yang harus meninggalkan posisi aslinya sebagai bek sayap kiri. Pertahanan MU kocar-kacir, bukan?

Nah, obat skema menyerang 4-3-3 adalah sistem permainan 4-4-2 dengan pressing ketat, dan serangan bertumpu pada gelandang-gelandang sayap lincah, dengan dua pemain tengah mengatur ritme permainan sebagai blocking lapangan tengah. Minimal, karena bertanding di kandang lawan, Red Devils tidak harus ketiban malu kalah 2-0 tanpa balas seperti pagi ini. Hasil imbang bisa dipaksakan anak-anak asuhan Solskjaer di kandang Liverpool.

Satu lagi bukti blunder Solskjaer adalah, strategi yang digunakan dan menjadi blunder itu, adalah yang digunakannya saat menahan The Reds di Old Trafford 1-1 pada pertandingan sebelumnya, Oktober 2019 silam. Solskjaer menerapkan pola sama, dengan tiga bek tengah, striker Daniel James dan Anthony Martial, yang terbelah lebar diapit gelandang serang tengah, dan Andreas Pereira didorong menggantung sebagai penyerang lubang. Asli formasi ini sama persis dengan pertemuan awal.

Bukankah sudah terbaca oleh Klopp? Lantas diulangi kembali, dalam posisi kehilangan beberapa pemain kunci. Di kandang sendiri saja tak mampu menang dari Liverpool, lalu di Anfield menggunakan formasi dan orang-orang yang sama pula pagi ini. Benar itu blunder, bukan?

Layaknya saklar listrik yang dibolak-balik, Liverpool mampu menekan, mendikte, dan 'mencekik' Manchester United. Hal yang sangat tidak mungkin terjadi di era Ferguson karena pria tua Skotlandia tersebut benci blunder. (Foto: Twitter Premier League & Michael Regan Getty Images/TheGuardian)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00