Yon Mardiono : Curhat, Geram dan Gemas dengan Keadaan PTMSI

KBRN, Jakarta : Konflik kepengurusan Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) tak kunjung beres, malah selama tujuh tahun terakhir terpecah belah menjadi tiga kubu Ketua Umum, yakni Oegroseno, Lukman Eddy, dan Peter Layardilay.

Yon Mardiono, atlet senior tenis meja Indonesia membeberkan betapa dirinya sangat menyesalkan trialisme kepengurusan PTMSI sampai berlangsung selama tujuh tahun, hingga akhirnya sekarang berimbas pada hilangnya event-event pertandingan buat atlet, seperti absen di Sea Games Manila 2019 dan PON Papua 2020.

"Memang kalau bicara ini dosa siapa, kenyataannya sudah tujuh tahun ada lebih dari satu ketua tenis meja Indonesia," kata Yon Mardiono, saat wawancara dengan Danang Sundoro dalam Dinamika Olahraga RRI, Minggu (23/2/2020).

Yon lanjut menuturkan, fungsi pengurus induk cabang olahraga adalah lebih banyak sibuk persiapan pada saat olahraga multi-event contohnya Sea Games lewat gelar Training Camp (TC) baik di dalam atau luar negeri. Anggaran pembinaan dengan besaran tergantung kebijakan pemerintah bakal digunakan setiap organisasi induk cabor untuk pembiayaan persiapan para atlet.

BACA JUGA: Tujuh Tahun Polemik Tak Berujung PTMSI, Semua Atlet Senior Usulkan Pembekuan

Tapi sejak pertama kiprahnya di tenis meja, ia belum pernah merasakan punya fasilitas training camp sendiri. Dan itu sebenarnya tanggung jawab pengurus untuk pengadaannya. Tapi apa yang terjadi sekarang justru kepengurusan PTMSI sibuk dengan perseteruan mengenai siapa yang duduk di Ketua Umum selama hampir tujuh tahun belakangan.

"Karena sebagai atlet tenis meja kami belum pernah merasakan memiliki gedung TC sendiri. Kami selalu pakai gedung Pupuk Kaltim Bontang atau Gudang Garam," ujarnya menambahkan.

Menurut Yon, sebagai praktisi olahraga ia dan rekan-rekan atlet lainnya menganggap uang dalam olahraga nomor dua. Kebanggaan mengukir prestasi menjadi nomor satu. Sejak kecil, kehidupan ini hanya dua pilihan, olahraga atau tidak sama sekali. Dan ia bersama rekan-rekannya memilih olahraga, mengorbankan masa muda demi mengejar prestasi dan menggantungkan masa depan di olahraga.

"Kami memilih olahraga, mengorbankan masa muda untuk mengejar prestasi dan demi masa depan. Tapi dengan adanya trialisme kepengurusan PTMSI seperti sekarang, semua itu hilang. PON tidak ikut, karena tidak ada lagi yang mau membiayai. Ditambah lagi kehilangan momen mengukir prestasi di Sea Games baru-baru ini," imbuhnya.

Yon sangat menyesalkan keadaan dengan trialisme kepengurusan seperti sekarang. Ditambah pemerintah menjatuhkan hukuman kepada PTMSI tidak memberangkatkan tenis meja ke Sea Games hanya karena pengurusnya punya tiga ketua umum. Tapi dari pengurus sendiri seolah tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan selama ini. 

"Tapi kalau boleh saya bicara sebagai atlet, kalau mau menghukum ya pengurusnya saja, jangan kami atletnya ikut merasakan. Kami sudah korbankan masa kecil kami untuk Indonesia. Kami bukan milik pengurus, kami milik negara, harusnya pemerintah mengambil alih kami ini hingga bisa ikut Sea Games. Seharusnya seperti itu," paparnya menambahkan.

BACA JUGA: Pengamat Tenis Meja : PTMSI Lucu-lucu Ngeri, Harus Segera Dibekukan!

Terlebih Sea Games kemarin di Manila menurutnya adalah kesempatan emas bagi Indonesia mendulang medali karena sejak era Anton Suseno dan Rossy Pratiwi Dipoyanti, Singapura banyak mengambil pemain naturalisasi dari Cina. Mereka yang dulunya juara dunia atau Asia dinaturalisasi oleh Singapura, sehingga sulit pastinya untuk berbuat banyak.

"Tapi Sea Games kemarin di Manila, Singapura tidak memakai pemain-pemain Cina naturalisasi mereka. Jadi amat disayangkan sekali pemerintah menghukum atlet tenis meja bersamaan dengan pengurusnya. Kita semua dihukum," sambungnya.

Apalagi Pekan Olahraga Nasional (PON) kali ini terasa lebih menyakitkan, dimana tenis meja kembali menjadi korban hanya karena kepengurusan yang terbelah tiga kubu. Jenuh dan menyita emosi dengan semua keadaan ini, itulah yang dirasakan para atlet maupun mantan atlet tenis meja Indonesia, kata Yon Mardiono.

Padahal PON itu menurut Yon merupakan salah satu anak tangga yang harus dilalui atlet sebelum bicara prestasi Internasional. Dengan tidak ikut PON, pastinya tidak bisa bicara prestasi dunia. Itulah kenapa dari tiga elemen dalam cabang olahraga, yaitu pengurus, pelatih, dan pemain atau atlet, harus diisi Sumber Daya Manusia (SDM) yang baik untuk dunia olahraga bukan kepentingan pribadi dan golongan.

"Maaf, saya masuk tim nasional tenis meja Indonesia sudah dari era Presiden Soeharto. Jadi paham bagaimana rasanya kendala atlet selama ini dari sarana dan prasarana dan lain sebagainya. Tanpa penanganan serius, tidak akan muncul atlet hebat berprestasi, itu saja kuncinya," tegasnya.

BACA JUGA: Konsultan Hukum Tenis Meja : PTMSI Butuh Campur Tangan Presiden dan Menpora

Terakhir, ia setuju dengan semua wacana pembekuan induk organisasi cabor tenis meja Indonesia yakni PTMSI. Musyawarah sudah tidak bisa, jadi lebih baik bekukan saja sambil melihat bagaimana langkah ke depan nanti. Ini harus dilakukan demi menyelamatkan para atlet, bukan pengurus.

"Dan pemerintah seharusnya mengambil keputusan itu," tandasnya.

Yon Mardiono 

Nama Yon Mardiono sudah tidak asing di belantara tenis meja nasional sampai mancanegara. Pria kelahiran Jawa Barat, 31 Maret 1979 ini merupakan penghuni tetap Pelatnas dan memiliki segudang prestasi di ajang tenis meja nasional maupun Internasional. 

Yon merupakan atlet peraih medali emas beregu, perak double, dan perunggu tunggal pada PON 2000 di Surabaya. Dan peraih medali perak beregu, perunggu double dan emas tunggal di PON 2004 Palembang.

Selain itu, adik kandung mantan petenis meja nasional Anton Suseno ini juga peraih medali perak beregu, perunggu double dan medali perunggu tunggal PON 2008 Samarinda, Kalimantan Timur. Medali emas terakhir untuk ajang PON berhasil diraih Yon Mardiono pada 2016.

Untuk prestasi level mancanegara, ia mengoleksi medali emas beregu, emas double dan medali Perunggu tunggal di SEATTA ASEAN Games 2015 dan medali perak double SEA Games 2015.

Kekecewaan mendalam dirasakannya ketika mendengar putusan Komite Olimpiade Indonesia (KOI) yang tidak mendaftarkan namanya untuk berlaga di SEA Games 2015 Singapura. Padahal, Yon telah terdaftar di Surat Keputusan Pemusatan Latihan Nasional (SK Pelatnas) Satlak Prima. Bahkan ia telah menempa diri delapan bulan di pelatnas.

Impian Yon berlaga di SEA Games runtuh akibat dualisme kepemimpinan Oegroseno dan Marzuki Alie. Keduanya kala itu bersaing meraih legalitas sebagai orang nomor satu di Pengurus Besar Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PB PTMSI). (Foto: temposport)

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00