Tujuh Tahun Polemik Tak Berujung PTMSI, Semua Atlet Senior Usulkan Pembekuan

KBRN, Jakarta : Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) berada dalam babak kelam kepengurusan. Mau dibawa kemana organisasi? Hendak seperti apa maunya pengurus? Lantas bagaimana nasib atlet? Inilah yang harus dicarikan segera solusinya sebelum tenggelam lebih larut dalam kehancuran.

Yon Mardiono, atlet senior tenis meja Indonesia membeberkan seperti apa asal muasal carut-marut PTMSI. Menurutnya, persoalan induk cabang olahraga (cabor) tenis meja yang tak berujung ini berawal pada tahun 2001-2003, ketika Ketua Umum (Ketum) Tahir Mayapada mulai ada kasak-kusuk merencanakan kepemimpinan lebih dari dua periode.

Tahir pun berkeinginan mengubah Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) untuk memuluskan rencananya tersebut. Dan ketika sudah menyangkut mengubah AD/ART itulah keinginan sang Ketum mulai bertolak belakang dengan para praktisi tenis meja termasuk para atlet aktif kala itu.

"Bertolak belakang dengan kami praktisi olahraga, kami menganggap keinginan (mengubah AD/ART) tidak sportif lagi. Dan setelah (memang) mengubah AD/ART itulah terjadi 'pemberontakan', lalu ada Munas (Musyawarah Nasional) yang dimenangkan oleh Marzuki Ali dan disahkan Ketua KONI saat itu Tono Suratman (Valentinus Suhartono Suratman)," ujar Yon Mardiono saat wawancara dengan Danang Sundoro dalam Dinamika Olahraga RRI, Minggu (23/2/2020).

Kemudian, masih menurut Yon, keadaan semakin suram kala Ketum Pengurus Besar (PB) PTMSI Tahyo Mayapada memberikan kursi Pimpinan Pusat (PP) PTMSI kepada Oegroseno, yang disahkan Komite Olimpiade Indonesia (KOI). Dan di sisi lain ada Ketua Umum Pengurus Besar (PB) PTMSI Marzuki Ali juga yang disahkan KONI.

"Memang kalau bicara ini dosa siapa, kenyataannya sudah tujuh tahun ada lebih dari satu ketua tenis meja Indonesia," sambung Yon Mardiono.

Dan Konflik kepengurusan PTMSI tak kunjung beres, malah semakin terpecah menjadi tiga kubu yakni Oegroseno, Lukman Eddy, dan Peter Layardilay.

Kalau polemik ini berlanjut dan tetap ada, yang berdosa adalah pengurus dan yang paling dirugikan pastinya para atlet. Hal ini diungkapkan Rossy Pratiwi, mantan atlet putri senior tenis meja Indonesia.

"Jujur saya sangat prihatin dengan prestasi tenis meja sekarang. Perbandingannya dulu, di Sea Games dapat medali perak saja dianggap gagal. Tapi sekarang, dengan sebuah perunggu saja itu sudah 'wah' banget. Itu artinya kemunduran prestasi," kata Rossy.

Akan tetapi, dengan kemunduran prestasi seperti itu, kata Rossy, bukannya berbenah, tapi justru para pengurus sibuk sendiri dengan keributan berkepanjangan soal siapa yang akan memimpin PTMSI.

"Bukan dibenahi prestasinya di Sea Games, Asian Games dan Olimpiade, tapi kita malah ribut berkepanjangan soal kepengurusan. Malah pengurus

yang berlomba-lomba untuk 'berprestasi'," sindir Rossy dengan gemas.

Perbincangan semakin hangat ketika masuk penelepon dari Tangerang, yang ternyata adalah Ling Ling Agustin Minangmojo atau karib disapa dengan Ling Ling Agustin, mantan atlet tenis meja Indonesia era 90-an. 

Dan Ling Ling bersama Rossy Pratiwi pernah bahu membahu mempersembahkan 7 (tujuh) medali emas buat Indonesia di ajang Sea Games. Prestasi terakhir Ling Ling adalah mewakili Indonesia dalam ajang Olimpiade Barcelona 1992.

Menyikapi perpecahan di tubuh PTMSI selama ini, Ling Ling tak mau banyak usulan atau apapun selain meminta pembubaran atau pembekuan pengurus PTMSI yang sekarang untuk kemudian dibereskan oleh negara, dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga RI.

"Jujur temen-temen kenal saya, saya salah satu atlet olimpiade 1992, dengan mbak Rossy dan Yon. Saya kasih masukan, kita mau ngomong apa aja, intinya satu, bekukan saja (PTMSI), selesai itu, gak ada yang lain itu. Saya rasa ketegasan itu harus benar-benar bersatu padu

antara Kemenpora, KOI, dan KONI, bersatu bekukan saja (PTMSI)," kata Ling Ling kepada RRI dan semua rekan-rekan seperjuangannya dulu.

"Sampaikan kepada ITTF (International Table Tennis Federation), beginilah keadaan Indonesia. Ini sudah berlarut-larut. Ini adalah efek dari pembiaran yang dampaknya ke semua lini," sambungnya.

Hal senada dengan forum di udara bersama RRI ini, Giovani Sinulingga, konsultan hukum tenis meja Indonesia. Dirinya berpendapat, tidak bisa diselesaikan lagi dengan musyawarah karena dari trialisme yang ada, masing-masing pastinya memegang dasar hukum keyakinan mereka untuk mempertahankan kekuasaannya di PTMSI.

"Menurut saya, kalau kita bicara hukum, masing-masing sudah berdiri pada keyakinannya sendiri-sendiri. Jadi butuh ketegasan dari pemimpin negara. Contoh (masalah) PSSI yang tidak pernah selesai (akhirnya selesai). Jadi ini harus direset dari 3 in 1, alias dibekukan dulu," tegas Giovani Sinulingga.

Artinya butuh campur tangan pemerintah membereskan persoalan tenis meja di Indonesia, karena negara ini sudah hilang dari beberapa kejuaraan penting, belum lagi banyak sekali atlet yang sangat dirugikan dengan polemik tak berujung ini.

Seperti serve pertama yang mengawali segalanya, itulah yang harus dilakukan semua pihak untuk menyelamatkan PTMSI. (Ilustrasi/Foto: fik.um.ac.id & Dok. RRI-Danang Sundoro)

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00