Sepeda Pak Pos Yang Tinggal Sejarah

KBRN,  Nunukan : Sepeda merupakan alat transportasi yang sejak dulu digemari berbagai kalangan. Selain alat transportasi , sepeda juga pernah menjadi alat atau sarana penting dalam jasa telekomunikasi, yaitu pengantaran surat yang dilakukan petugas Pos di berbagai belahan dunia. Termasuk di Indonesia.

Kisah pak pos di Indonesia sudah ada semenjak zaman kompeni atau VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) berdiri di Nederland Indie. Tentu tidak dapat disamakan dengan sekarang yang serba canggih. Bahkan pengiriman surat kini sudah jarang semenjak internet kita kenal dan email jadi pilihan.

Pada jaman dulu pengiriman surat dari Batavia (Jakarta) ke negeri Belanda memakan waktu berbulan bulan bahkan bisa setahun baru sampai. Sedangkan dari Batavia ke Maluku memerlukan waktu sampai 4 bulan. Hal ini disebabkan pengiriman masih menggunakan kapal VOC kemudian dilanjut dengan berkuda atau bahkan jalan kaki.

Bisa kalian bayangkan  bagaimana lamanya surat kita sampai.Mengapa lama ? karena sebelum dikirim, surat-surat atau paket pos disimpan di gedung penginapan kota (stadsherberg). Jika menyebrang pulau maka harus menunggu datangnya kapal. Kemudian surat diantar Tukang Pos atau Pak Pos secara beranting dari satu tempat ke tempat lain.Bisa menggunakan kereta kuda atau bahkan jalan kaki.

Kantor pos (Postkantoor) pertama di Batavia didirikan oleh Gubernur Jenderal G.W Baron van Imhoff pada 26 Agustus 1746.Empat tahun kemudian tepatnya 1750, didirikan kantor pos di Semarang. Menyusul kota kota lain di pulau Jawa.

Pembangunan jalan pos pada era pemerintahan Daendels tiada lain untuk mempercepat transportasi juga pertumbuhan ekonomi penjajah.Jalur Kereta api kemudian dibangun sehingga dapat mempercepat pengiriman surat di kota kota di pulau Jawa.

Rute perjalanan pos kala itu melalui Karawang, Cirebon dan Pekalongan. Setelah itu, terdapat perhubungan pos yang teratur antara Batavia, Pekalongan, dan Semarang dengan kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Pada awal abad ke 20, tukang pos yang awalnya berjalan kaki dan tukang pos bergerobak dipedesaan diberi sepeda (rijwiel).Penggunaan sepeda ini membuat pengiriman surat jauh lebih cepat dan efisien.

Menurut pengamat perposan Donny Safardan, pengiriman surat jadi lebih efisien setelah perusahaan pos Hindia Belanda menggunakan sepeda.

"Pada 1920an, tukang pos di Indonesia telah banyak menggunakan sepeda. Sepeda yang digunakan pak pos ini seperti sepeda onthel pada umumnya, yang memiliki tinggi frame 22 inchi (58) atau 24 inchi (60), dengan ban depan maupun belakang berukuran 28 inchi. Di bagian stang diletakan kotak surat (bis surat), sebagai tempat masyarakat mengeposkan suratnya. Selain itu, dibagian bagasi (boncengan) diletakan dua buah kantong dari kain kanvas di sebelah kiri dan kanan" jelasnys.

 Saat itu, tukang pos mengantar surat sambil membawa bis surat itu.Pada masa setelah pemerintahan RI tahun 1950an, pengantar surat atau tukang pos di Indonesia juga difasilitasi sepeda pos seperti jaman Hindia Belanda dan Jepang. Sepeda pos ini mempunyai tampilan yang khas, seperti ban depan berukuran 20 inchi, sedangkan ban belakang ukuran 26 inchi. Sepeda yang digunakan merk Falter buatan Jerman. Tampilan karakteristik sepeda pos Falter ini menggunakan hub belakang torpedo sachs, gir bintang dengan ukuran rantai lebar 0,5 cm, sedang rem depan model stempel melalui baut setang.Sepeda merek Falter yang berarti ngengat (sejenis kupu-kupu), merupakan salah satu merek tradisional dari Bielefeld, Jerman.

Munculnnya Durkopp yang mulai memproduksi sepeda pada 1886, memicu tumbuhnya produksi sepeda sebagai industri baru di Jerman. Terutama pada dekade 1920an, ada banyak pengusaha mulai berbisnis sepeda, salah satunya adalah pabrik sepeda Falter.

Pada tahun 1923, perbaikan sepeda bernama Bielefelder Fahrradwerk Thomas & Co dimulai dengan persiapan membuat sepeda Falter. Pihak produsen ingin pengembangan sepeda Falter ini seperti ciri khas ngengat (sejenis kupu-kupu) yang sedang berkembang (metamorfosis). Pada 1926, pasangan suami istri Max Tallardt dan Louise terlibat dalam bisnis sepeda Falter, karena perbaikan sepeda ini dalam keadaan kritis menuju kebangkrutan.Pada 1927, Max Tallardts dan istri mendirikan pabrik sepeda (Fahrradfabrik) Falter.

Max Tallardt menyewa ruangan di Johanniswerkstraße. Dalam perjalanannya, bisnis sepeda Falter mengalami kesuksesan. Dalam rangka untuk memenuhi permintaan sepeda Falter yang semakin meningkat, maka pada 1930, Falter memindahkan pabriknya ke bangunan yang lebih besar di Küglerstraße. Alhasil, di tahun 1932, sekitar 100.000 unit sepeda Falter diproduksi.

Tak puas dengan sepeda, Falter pun mulai membuat skuter dan sepeda anak (kinderradern).Pada 1935, pabrik Falter mulai memproduksi sepeda bermotor (motorfahrradern) dan sepeda motor ringan (leichtmotorradern) bermerek Falter.

Produksi sepeda motor ini menimbulkan lebih banyak pendapatan perusahaan Falter.Pada 1937, anak dari Max Tallardt, yaitu Alfred Rahe bergabung dengan manajemen Falter. Dua tahun kemudian setelah kematian Max Tallardt, Rahe dan istrinya Edelgard, mengambil alih menejemen perusahaan Falter.

Pada masa ini sepeda kargo (transport fiets) Falter dan sepeda anak-anak seperti Falter Wipper berkembang menjadi penjualan terbaik perusahaan Falter.Pada 15 Desember 1940, pabrik Falter telah penyelesaian 1 juta unit sepeda. Bahkan menghasilkan suku cadang untuk Panzerwagenbau.

Tanggal 30 September 1944, pabrik Falter mengalami kerusakan berat akibat terkena bom saat perang dunia kedua. Produksi pabrik Falter pun berhenti.Pada 1946, setelah mendapat ijin (permit) dari militer Inggris yang menduduki Jerman. Desember 1945, merupakan awal baru perusahaan Falter dengan memproduksi handkarren, waschepfahlen, dan haushaltsartikeln.

Pada 1950, Edelgard Rahe meninggal dalam kecelakaan mobil. Akibatnya muncul krisis di perusahaan Falter. Guna mengatasi krisis ini, produksi sepeda Falter kian digenjot untuk peningkatan ekspor. Sepeda lipat (klapprad) merek Butterfly dan Mariposa (Bahasa Inggris atau Spanyol untuk kupu-kupu) dijual ke luar negeri dengan baik.

Dalam pekerjaannya dibutuhkan lebih dari 200 karyawan.Menurut pengamat perposan , Donny Safardan sepeda Merk Butterfly dan Mariposa inilah yang kemudian banyak digunakan di Indonesia dari mulai tahun1930an.

Pada 1960, pabrik firmiert berubah nama menjadi Falterfahrrad-werkeyang dipimpin oleh Alfred Rahe dan putranya, Wolfgang Rahe.Bomingnya sepeda lipat telah membantu industri sepeda Falter dari krisis penjualan.

Sepeda lipat Butterfly adalah salah satu merek pertama di Jerman. Andalan lainnya adalah produksi massal fork (garpu) depan Falter.Sejak 1963-1964, Wolfgang Rahe adalah satu-satunya manajer. Diantara produk Falter termasuk sepeda lipat Star Rider, Superstar dan Bonanza Raders dengan sadel pisang dan stang tinggi masuk transportasi dan pabrik sepeda. Pembuatan peralatan transportasi seperti truk dan van menjamin kelangsungan pekerjaan Falter.

Pada 1967, tahun enam puluhan adalah puncak dari Klappradwelle. Pada 1969, di Jerman dibuat sekitar 2 000 000 Klappradwelle. 45 persen roda adalah sepeda lipat. Falter KLE 20 ditempati pada Stiftung Warentest 2.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar