Mengenal 'NPS', Narkotika Jenis Baru yang Lebih Berbahaya

Deputi Pencegahan Badan Narkotika Nasional (BNN), Irjen Pol Anjan Pramuka Putra (Dok RRI/Josua Sihombing)

KBRN, Jakarta: Badan Narkotika Nasional (BNN) kembali mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap peredaran narkotika jenis baru dengan nama New Physicoactive Subtance (NPS) di Indonesia.

Deputi Pencegahan BNN, Irjen Pol Anjan Pramuka Putra mengatakan bahwa narkotika bernama New Physicoactive Subtance (NPS) itu memiliki tingkat kebahayaan mencapai berlipat-lipat kali berbahaya penggunaannya jika dibandingkan dengan narkotika jenis lain.

"Kewaspadaan akan narkotika harus lebih di tingkatkan. Karena ada narkotika jenis baru atau New Physicoactive Substance. NPS ini lebih dikenal dengan narkoba sintetis," kata Deputi Pencegahan BNN, Irjen Pol Anjan Pramuka Putra dalam paparan diskusi 'Menggelorakan Kampanye Nasional #hidup100persen-Sadar, Sehat, Produktif dan Bahagia' yang digelar di kawasan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (22/10/2020).

"Kalo empat tahun lalu bicara narkoba hanya ganja, heroin, kokain, ekstasi, petamin. Tetapi sekarang yang lebih bahaya adalah munculnya NPS. Ini sangat membahayakan, yaitu 13 kali lebih berbahaya dari narkoba yang ada," lanjutnya lagi.

Diterangkannya, dampak penggunaan narkotika berjenis sintetis itu, bisa berpengaruh oleh penggunanya hingga dalam kurun waktu satu hari.

"Kalo masih ingat ada tembako gorila (sintetis juga) yang digunakan oleh seorang oknum dari salah satu maskapai, yang bersangkutan sore hari menggunakan tembako gorila, ternyata pengaruhnya sampe pagi pun masih berpengaruh," katanya.

Lebih lanjut diungkapkannya, bahwa narkotika tersebut bahkan belum terdaftar sebagai jenis obat-obatan yang dilarang karena memiliki zat berbahaya di Kementerian Kesehatan.

"Narkotika jenis baru atau New Physicoactive Substance ini, belum terdaftar dalam peraturan Permenkes (Peraturan Menteri Kesehatan)," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00