Tersangka Pelecehan Rapid Test Bandara Bukan Dokter

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus. (Dok foto: Anggi/RRI)

KBRN, Jakarta: Tersangka kasus pemerasan dan pelecehan seksual terhadap wanita berinisial LHI saat menjalani Rapid Test di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, ternyata bukanlah seorang dokter. 

Hal itu diungkapkan Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus. Menurutnya informasi tersebut didapat pihaknya berdasarkan keterangan Ikatan Dokter Indonesia atau IDI. 

"IDI tidak bisa hadir, tapi melayangkan surat keterangan mengenai siapa EFY (Eko Firstson Yuswardinata) ini," ujar Yusri kepada wartawan di Jakarta, Selasa (29/9/2020). 

"Dalam keterangannya menyatakan bahwa memang diakui di situ (EFY) belum sah menjadi dokter, karena yang bersangkutan memang pernah kuliah di kedokteran salah satu universitas swasta di Sumatera Utara tahun 2015," tambah Yusri. 

Lebih lanjut, Yusri menjelaskan bahwa EFY sudah mengikuti pendidikan koas (dokter muda) sampai selesai, namun tidak mengikuti Uji Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI).

BACA JUGA: Pelaku Pelecehan Rapid Test Bandara Ditetapkan Tersangka

"Jadi status yang bersangkutan saat ini adalah masih sarjana kedokteran," tuturnya. 

Sebelumnya diketahui, terjadi dugaan pelecehan dan penipuan yang dialami LHI saat menjalani tes cepat Covid-19 di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. 

LHI lantas membagikan cerita terkait dugaan pemerasan dan pelecehan saat menjalani rapid test di Bandara Soetta pada 13 September 2020 itu melalui akun Twitter @listongs.

Setelah cerita tersebut viral, EFY sempat melarikan diri. Namun akhirnya, polisi berhasil mengamankan EFY di Balige, Toba, Sumatera Utara pada Jumat (25/9/2020) dini hari. 

Akibat perbuatannya, kini EFY yang sudah ditetapkan sebagai tersangka sebelum penangkapannya itu dijerat pasal 289 KUHP, 294 KUHP, 368 KUHPidana dan atau 378 KUHP dengan ancaman maksimal 9 tahun penjara. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00