Panti Mesum Berkedok Pijat, Tiga Jadi Tersangka

Para terapis dari Panti Mesum Berkedok Pijat bernama T Massage, yang diamankan petugas (RRI/Ryan)

KBRN, Jakarta: Pemprov DKI Jakarta melarang usaha rakyat tertentu yang beroperasi selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Salah satu yang masih dilarang beroperasi adalah Panti Pijat. Tujuannya untuk mencegah penularan Covid-19.

Panti pijat bernama T Massage, di wilayah Gading Indah Blok 5 No. 21, Jalan Raya Gading Kirana, Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara, terbukti melakukan aktivitas di masa pandemi Covid-19, dan melanggar aturan PSBB Total Pemprov DKI Jakarta. 

Wakapolres Jakarta Utara, AKBP Aries Sandi Fadhillah membenarkan bahwa panti pijat ini melanggar peraturan PSBB ketat yang kembali diberlakukan Pemprov DKI Jakarta. 

Barang bukti yang diamankan polisi (RRI/Ryan)

"Karena ini dalam rangka mencegah penyebaran Covid-19, dimana kita berpedoman dengan Pergub 79 tahun 2020. Di antara pembatasan kegiatan baik di tempat rekreasi, tempat hiburan atau restoran," ujar Aries, saat konfrensi pers di Mapolres Jakarta Utara, Selasa (22/9/2020). 

Aries menjelaskan, modus operandi yang dilakukan tempat tersebut diatur oleh seorang supervisor yang menghubungi sejumlah pelanggan melalui pesan singkat dan foto terapis. Saat pelanggan berdatangan, kondisi ruko dibuat seolah-olah tidak ada aktivitas.

"Untuk jasa yang dikenakan pelanggan sebesar Rp160.000 per satu jam. Jika ada permintaan aktivitas cabul, pelanggan harus membayar Rp300.000," terang Aries.

Ia menyebutkan, setelah dilakukan pemeriksaan, 9 (sembilan) orang di antaranya merupakan pelaku terapis di tempat usaha tersebut. Kemudian sembilan orang lagi pembantu operasional, dan tiga orang ditetapkan sebagai tersangka (1 supervisor dan 2 kasir) terkait kegiatan usaha eksploitasi seksual di tengah pandemi Covid-19.

Rilis penggerebekan Panti Mesum Berkedok Pijat saat PSBB Total di Jakarta Utara (RRI/Ryan)

Tiga orang tersangka tersebut yakni DD sebagai supervisor, TI dan AF sebagai kasir.

Dalam kasus ini, pihak kepolisian mengamankan barang bukti uang tunai Rp2.75 juta, 4 (empat) struk pembayaran, laporan harian, mesin EDC, sprei dan handuk, celana pendek, bra (beha) wanita dan uang tunai sebesar Rp300.000 milik terapis berinisial MR.

"Ketiganya dijerat pelanggaran menyediakan fasilitas untuk mempermudah kegiatan cabul dan mengambil keuntungan dari perbuatan cabul yang diatur dalam Pasal 296 KUHP Junto Pasal 506 KUHP dengan ancaman satu tahun empat bulan penjara," ungkap Aries.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00