Kendala Kasus KPI, Polisi Cari Unsur Pidana

Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Hengki Haryadi (kanan) saat memberikan pernyataan pers di Jakarta (Ryan/RRI)

KBRN, Jakarta: Aparat kepolisian Polres Metro Jakarta Pusat masih mencari ada tidaknya unsur pidana perbuatan tidak menyenangkan terkait kasus dugaan pelecehan sesama pegawai di Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), sehingga menempatkan masalah ini masih dalam tahap penyelidikan.

Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Hengki Haryadi mengatakan, ada kendala dalam mengungkap kasus dugaan pelecehan seks dan perundungan ini, hingga penyelesaiannya terasa agak lama.

"Kendalanya pertama, tempus delicti-nya, artinya temponya sudah bertahun-tahun dalam rentang 2012-2021. Tempus-nya karena kejadian sudah terlalu lama dari pelaporan sekarang, Lokus deliknya (lokasi kejadian) juga sudah berubah karena Gedung KPI yang sekarang sudah pindah," kata Hengki usai memberikan keterangan di Kantor Komnas HAM, Menteng, Jakarta Pusat, seperti dikutip RRI.co.id, Rabu (22/9/2021).

Meski begitu, Hengki berjanji akan terus mencoba untuk menggali keterangan dan fakta terbaru untuk mengkonstruksikan kasus tersebut.

BACA JUGA: Kepolisian Teruskan Proses Hukum Kasus KPI

Polisi juga terus berupaya agar pengenaan pasal perbuatan tidak menyenangkan bisa diterapkan dalam kasus yang melibatkan sesama pegawai KPI.

"Tapi kami tidak menyerah, kami akan cari termuan baru selain kasus pelecehan seksual itu untuk konstruksikan dalam pasal perbuatan tidak menyenangkan. Apakah ada paksaan fisik maupun psikis, kalau memang itu ada akan kita periksa juga pihak-pihak yang terlibat," ucap Hengky.

Bila ditemukan, penyidik akan meningkatkan perkara ke tahap penyidikan.

Penyidik akan melakukan upaya semaksimal mungkin untuk mengantongi minimal dua alat bukti yang dibutuhkan. 

"Kami masih fokus menyelidiki kebenaran peristiwa itu dengan mengumpulkan keterangan dari pelapor dan terlapor. Nanti apabila peristiwa ini memang benar ada, kami akan meningkatkan menjadi proses penyidikan berdasarkan minimal dua alat bukti. Jika itu sudah ditemukan, bisa kita tentukan siapa tersangkanya," jelas Hengki. (Miechell Octovy Koagouw)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00