Mantan Tim Mawar Masuk Kemhan, Mengembalikan Kegelapan

Menteri Pertahanan RI, Prabowo Subianto (Dok. Antara)

KBRN, Jakarta: Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid cukup kesal dengan masuknya dua eks anggota Tim Mawar di lingkungan Kementerian Pertahanan yang dipimpin Prabowo Subianto.

Masuknya dua eks anggota Tim Mawar, kata dia, secara lugas telah mengirimkan sinyal yang mengkhawatirkan bahwa para pemimpin Indonesia saat ini memang telah melupakan hari-hari tergelap dan pelanggaran terburuk yang dilakukan di era pemerintahan Presiden Ke-2 RI, Soeharto.

Usman menilai, pemerintah salah langkah dengan memasukan eks anggota tim mawar di lingkungan pemerintah. Pasalnya, itu sama saja menyerahkan kendali kekuatan pertahanan negara kepada seseorang yang terlibat dalam kejahatan terhadap kemanusiaan, termasuk penghilangan paksa.

"Ketika Prabowo memimpin pasukan khusus (Tim Mawar), para aktivis menghilang dan banyak tuduhan penyiksaan dan penganiayaan lainnya," kata Usman dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (25/9/2020).

"Dan sekarang orang tersebut (Prabowo) melanjutkannya dengan mengangkat orang-orang yang terimplikasi hukum atas kasus penculikan yang pernah diadili di Mahkamah Militer," kata Usman.

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto diketahui melakukan perombakan perwira tinggi (pati) atau pejabat eselon I di Kementerian Pertahanan (Kemenhan) berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 166/TPA Tahun 2020 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Dari dan Dalam Jabatan Pimpinan Tinggi Madya di Lingkungan Kementerian Pertahanan.

BACA JUGA: Tim Mawar Masuk Kemenhan, Usman: Mahkamah Militer

Ada dua nama yang menarik perhatian terkait pengangkatan pejabat struktural eselon I di lingkungan Kemhan ini. Dua nama itu yakni Brigjen TNI Yulius Selvanus yang diberi mandat sebagai Kepala Badan Instalasi Strategis Pertahanan Kemhan dan Brigadir Jenderal TNI Dadang Hendrayudha yang diberi mandat oleh Prabowo untuk menempati posisi Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan.

Dua nama ini disebut-sebut sebagai mantan anggota Tim Mawar, yang di masa lalu merupakan tim yang dibentuk pada 1997 dan bertugas untuk menculik para aktivis yang membangkang dan membahayakan pemerintahan Presiden Soeharto kala itu.

Tim Mawar dikaitkan dengan Prabowo Subianto saat itu menjabat Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus.

Prabowo dan rekannya, Mayjen Muchdi P.R serta Komandan Grup IV Kopassus Kolonel Chairawan bahkan diseret ke Dewan Kehormatan Perwira (DKP) terkait penculikan aktivis. Prabowo akhirnya dipecat dari kemiliteran.

Mantan Komandan Pusat Polisi Militer (Danpuspom) TNI, Mayjen (Purn) Syamsu Djalal pernah mengatakan, bahwa Tim Mawar mengakui telah menculik sejumlah aktivis karena diperintah oleh Prabowo.

"Komandan Tim Mawar [Bambang] mengaku kalau melakukan penculikan atas perintah komandannya, yakni Danjen Kopassus," kata Syamsu di depan 'Konsolidasi Korban Pelanggaran HAM' di Gedung Joeang '45, Jakarta, pada 25 Juni 2014 silam.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00