Ini Sejarah Prabowo Subianto Jadi Ketum Gerindra

Foto: ist

KBRN, Jakarta: Partai Gerakan Indonesia Raya atau Partai Gerindra, adalah sebuah partai politik di Indonesia yang didirikan dan diketuai oleh Prabowo Subianto mulai dari 2008-2025.

Partai Gerindra berdiri pada tanggal 6 Februari 2008, bermula dari keprihatinan untuk mengangkat rakyat dari jerat kemelaratan, akibat permainan orang-orang yang tidak peduli pada kesejahteraan.

Dalam sebuah perjalanan menuju Bandara Soekarno-Hatta, terjadi obrolan antara intelektual muda Fadli Zon dan pengusaha Hashim Djojohadikusumo. Ketika itu, November 2007, keduanya membahas politik terkini, yang jauh dari nilai-nilai demokrasi sesungguhnya. Demokrasi sudah dibajak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan memiliki kapital besar. 

Akibatnya, rakyat hanya jadi alat. Bahkan, siapapun yang tidak memiliki kekuasaan ekonomi dan politik akan dengan mudah jadi korban. Kebetulan, salah satu korban itu adalah Hashim sendiri. Dia diperkarakan ke pengadilan dengan tudingan mencuri benda-benda purbakala dari Museum radya Pustaka, Solo, Jawa tengah. 

Baca Juga: Aklamasi Jadi Ketum Prabowo 'Ngotot' Maju Pilpres

Gagasan pendirian partai pun kemudian diwacanakan di lingkaran orang-orang Hashim dan Prabowo. Rupanya, tidak semua setuju. Ada pula yang menolak, dengan alasan bila ingin ikut terlibat dalam proses politik sebaiknya ikut saja pada partai politik yang ada. 

Kebetulan, Prabowo adalah anggota Dewan Penasihat Partai Golkar, sehingga bisa mencalonkan diri maju menjadi ketua umum. Namun, ketika itu Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla adalah wakil presiden mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Mana mau Jusuf Kalla memberikan jabatan Ketua Umum Golkar kepada Prabowo?" kata Fadli Zon seperti yang dirangkum RRI.co.id dalam artikel sejarah Partai Gerindra, Sabtu (8/8/2020).

Selanjutnya, pada Desember 2007 silam, di sebuah rumah, yang menjadi markas IPS (Institute for Policy Studies) di Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, berkumpulah sejumlah nama untuk merumuskan Partai Gerindra.

Baca Juga: Jokowi Megawati Saksi, Prabowo Ketum Gerindra Lagi

Nama-nama tersebut yakni Fadli Zon, hadir pula Ahmad Muzani, M. Asrian Mirza, Amran Nasution, Halida Hatta, Tanya Alwi, Haris Bobihoe, Sufmi Dasco Ahmad, Muchdi Pr, Widjono Hardjanto dan Prof Suhardi. Mereka membicarakan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) partai yang akan dibentuk. 

Pembentukan Partai Gerindra boleh dibilang cukup mendesak, karena bertepatan dengan masa kampanye untuk pemilihan presiden Pilpres 2009. 

Dalam deklarasi itu, termaktub visi, misi dan manifesto perjuangan partai, yakni terwujudnya tatanan masyarakat indonesia yang merdeka, berdaulat, bersatu, demokratis, adil dan makmur serta beradab dan berketuhanan yang berlandaskan Pancasila sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD NRI tahun 1945.

Pada periode 2009-2014, Partai Gerindra berada di luar kabinet pemerintahan pusat bersama PDI-P dan Partai Hanura.

Pada pemilihan umum legislatif 2014, Partai Gerindra mendapatkan 73 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. 

Partai Gerindra mengusung Prabowo Subianto selaku Ketua Dewan Pembina sebagai calon presiden pada pemilihan umum Presiden di tahun tersebut. Pada periode 2014-2019, Partai Gerindra kembali berada di luar kabinet pemerintahan pusat bersama PKS dan Partai Demokrat.

Pada pemilihan umum Presiden 2019, Partai Gerindra kembali mengusung ketua dewan pembina Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno bersama partai lainnya yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Adil Makmur.

Namun, pada periode 2019-2024, Partai Gerindra berada di koalisi pemerintahan Jokowi-Amin dengan tergabung ke Kabinet Indonesia Maju.

Kini, Prabowo Subianto terpilih lagi sebagai Ketua Umum Partai Gerindra periode 2020-2025 hasil Kongres Luar Biasa (KLB) di Sentul, Bogor, Sabtu (8/8/2020).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00