Wahyu Setiawan Ditangkap, Kredibilitas KPU Dipertanyakan

KBRN, Semarang : Kredibilitas Komisi Pemilihan Umum (KPU)  dipertaruhkan pasca penangkapan Komisionernya Wahyu Setiawan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)  terkait suap pergantian antar waktu (PAW) anggota DPR dari partai PDI-P. 

Jika tidak segera ditangani hingga tuntas, dikhawatirkan akan menurunkan kepercayaan masyarakat pada Pilkada serentak di 270 daerah tahun ini.

Hal tersebut dikemukakan Koordinator JAH n P  (Jaringan Advokasi Hukum dan Pemilu Jawa Tengah) Teguh Purnomo kepada RRI, Minggu (12/1/2020).

Menurutnya, kasus penyuapan komisioner KPU Wahyu Setiawan harus segera dituntaskan demi menjaga marwah penyelengara pemilu. Selain itu perbaikan sistem juga perlu dilakukan sebagai bentuk keseriusan KPU dalam menyelengarakan pemilu secara jujur dan adil. 

“Perbaikan internal dengan segera bekerjasama dengan KPK untuk membangun WBS (whistle-blowers system) pada internal KPU hingga jajaran KPU Provinsi dan Kabupaten/Kota. Langkah ini sebagai upaya internal kontrol yang bertujuan sebagai tindakan pencegahan,” pintanya. 

Menyimak fakta yang disampaikan KPK terkait suap komisioner KPU, Teguh meminta pihak yang disebutkan untuk koperatif mendukung upaya penuntasan kasus ini. Jika tidak, dapat menurunkan animo masyarakat pada penyelengaraan Pilkada di 270 daerah tahun 2020.

“Temuan rekomendasi dari PDI P kepada KPU untuk menetapkan Harun Masiku sebagai pengganti caleg yang meninggal perlu didalami KPK untuk memastikan keterlibatan internal partai,” ujarnya. 

Seperti diketahui KPK menetapkan empat tersangka kasus suap pengurusan pergantian antar waktu anggota DPR. Keempat tersangka tersebut terdiri dari dua orang penerima suap yakni Komisioner KPU Wahyu Setiawan, mantan anggota Badan Pengawas Pemilu Agustiani Tio Fridelina. 

Sementara pemberi suap adalah  Harun Masiku, calon anggota legislatif (caleg) dari PDIP dan Saeful (swasta). Adapun untuk melancarkan proses pergantian antar waktu Harun menjanjikan uang suap sebesar 900 juta kepada Wahyu Setiawan. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00