Romo Benny: Politik Identitas adalah Adu Domba

Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo. (foto: BPIP)

KBRN, Jakarta:  Politik identitas dinilai telah memanipulasi agama, etnis, hingga suku, dengan tujuan mengadu domba elemen masyarakat. Politik identitas juga mengaduk emosi masyarakat.

“Emosi publik ditinggikan demi mendapatkan kekuasaan dan suara, tanpa adanya gagasan serta pemikiran,"  kata Antonius Benny Susetyo atau Romo Benny. Ia berbicara dalam kapasitasnya sebagai Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Dalam perbincangannya dengan Pro 3 RRI, Jumat (19/8/2022), Romo Benny memberi sinyal kehancuran jika Indonesia terus masuk dalam politik identitas. Betul-betul membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Politik identitas ini membuat masyarakat reaktif, miskin gagasan, dan berpotensi konflik. Itu akan terus terjadi,“  ujarnya. “Ini dapat membuat bangsa berantakan."

Ia menyerukan ajakan kepada partai politik (parpol) untuk berhenti memainkan politik identitas.

Romo Benny lantas mengajak masyarakat untuk mengakhiri politik identitas. Gunakan politik rasional, saling adu gagasan, program, konsep, sehingga masyarakat memiliki kecerdasan dalam memilih calon pemimpin.

Ia mengapresiasi sikap seruan Presiden Jokowi untuk mengakhiri politik identitas. Dari situ parpol juga punya tanggung jawab menghadirkan politik rasional.

Parpol memiliki kewajiban menghadirkan calon-calon pemimpin yang berkualitas. Kemudian memiliki agenda kerja yang bisa dipertanggungjawabkan.

“Calon dengan politik identitas akan membuat masyarakat goblok permanen, meruntuhkan keadaban demokrasi. Parpol dan calon-calonnya harus punya tanggung jawab etis, tidak manipulasi agama, suku bangsa, dan etnis," ujar Romo Benny.

Benny pun menyerukan sebuah gagasan agar politik identitas dapat dihapuskan di Indonesia. Dalam hal itu KPU dan Bawaslu harus memiliki peran lebih banyak.

“Tegakkan hukum dan aturan main. Dalam berpolitik dua hal itu harus diutamakan," ia, berseru.*

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar