Anggota DPR Ungkap Modus Penipuan Daring

Anggota Komisi I DPR RI Muhammad Farhan. Dokumentasi dpr.go.id/Runi/Man.jpeg

KBRN, Jakarta: Anggota Komisi I DPR RI Muhammad Farhan mengungkapkan, setidaknya ada lima modus penipuan daring, yakni pengelabuan, rekayasa sosial, manipulasi informasi, transfer ulang, dan penganalisa paket. 

"Ada beberapa modus penipuan online (daring) yang harus kita perhatikan. Ini (lima modus penipuan daring) adalah berbagai kejahatan yang telah diantisipasi melalui Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) serta penegakan hukumnya masuk ranah pidana," kata Farhan kepada wartawan, Rabu (18/5/2022). 

Lebih lanjut, ia menjelaskan, pengelabuan merupakan modus penipuan daring yang dilakukan oleh pelaku dengan menghubungi calon korban melalui e-mail, telepon, ataupun pesan teks dan mengaku sebagai perwakilan dari lembaga resmi.

Selanjutnya, tambah Farhan, mereka akan meminta data-data pribadi, perbankan, kartu kredit, dan kata sandi milik korban.

"Biasanya, para penjahat (pelaku phising atau pengelabuan) menghubungi calon korban, lalu meminta data-data pribadi, data perbankan, kartu kredit, dan kata sandi," ujarnya. 

"Jadi, hati-hati sekali kalau ada yang menelpon mengaku sebagai customer service bank tempat anda membuka rekening, terus mintanya aneh-aneh dan tidak wajar, seperti data pribadi," jelasnya. 

Berikutnya mengenai rekayasa sosial, Farhan memaparkan, pada umumnya, modus penipuan daring ini dilakukan oleh pelaku dengan memulai obrolan mengenai hal-hal umum.

Kemudian, tambahnya, tindakan itu membuat korban secara tidak sadar memberikan informasi penting yang dapat menyebabkan akun-akun miliknya di dunia digital dapat dibajak oleh pelaku.

"Yang ketiga, ada pharming atau manipulasi informask. Dalam pharming ini, pelaku akan mengarahkan korban menuju alamat laman palsu. Alamat ini mirip-mirip (dengan yang asli)," ujarnya. 

"Ketika korban mengakses laman tersebut, secara tidak langsung, domain name system (DNS) yang telah diklik akan tersimpan di komputer dalam bentuk cache. Dengan demikian, perangkat korban akan mudah diakses oleh pelaku," ungkapnya.

Lalu, tekannya, money mule atau meminta transfer ulang merupakan modus penipuan daring yang dilakukan oleh pelaku dengan mentransfer sejumlah uang dalam jumlah kecil kepada korban. 

"Pelaku kemudian menjanjikan korban dapat memperoleh komisi apabila mentransfer kembali uang tersebut kepada pihak lain," ungkapnya. 

Sementara itu, sniffing atau penganalisa paket merupakan modus penipuan daring yang dimanfaatkan pelaku dengan mengincar perangkat korban, seperti laptop atau komputer jinjing, komputer, ataupun ponsel pintar.

"Biasanya, mereka mendapatkan informasi yang ada di perangkat melalui jaringan WiFi gratis. Jadi, masyarakat harus hati-hati. Jika menggunakan WiFi gratis, pastikan penggunaannya sebentar saja," tandas Politisi Nasdem ini.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar