Jejak Haji Permata, 'Omong Kosong' Tak Berkongsi Pejabat

Foto: (Dok. Ist)

KBRN, Jakarta: Sosok almarhum Haji Permata (HP) menjadi buah bibir setelah terjadi insiden penembakan oleh petugas Bea Cukai di perairan Sungai Bela, Indragiri Hilir, Provinsi Riau, Jum'at (15/1/2021) lalu.

Sosok pengusaha Batam asal Sulawesi Selatan (Sulsel) ini disebut sebagai Robin Hood nya Batam dan juga dijuluki 'The Goo Father of Batam'.

Sepak terjang dan jejak Haji Permata bernama asli Jumhan ini memang kontroversial. 

HP memiliki sejumlah usaha seperti pergudangan, bisnis pelayaran, hingga hotel di Kota Batam ini pernah menyerang Kantor Wilayah IV Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Kanwil DJBC) Khusus Kepri, pada pertengahan November 2014.

Tidak sendiri, bahkan HP turut membawa 180 pasukan dengan membawa senjata tajam Denis parang.

Ulahnya itu, HP dikenakan Pasal 160 KUHP tentang perbuatan menghasut untuk melakukan pidana, kekerasan terhadap penguasa umum atau tidak menuruti baik ketentuan undang-undang (UU) maupun perintah jabatan yang diberikan berdasar ketentuan UU dengan ancaman hukuman pidana penjara maksimal 6 tahun.

Namun, ancaman enam tahun ternyata sangat kontras dengan vonis pengadilan. 

Ketok palu pada 17 April 2015, memutuskan HP hanya divonis lima bulan kurungan. Bahkan lebih ringan dari tuntutan jaksa saat itu, yakni 8 bulan.

Selanjutnya, pada awal Desember 2019, di lerbatasan Indonesia - Malaysia sekitar Perairan Karang Pulau Galang bagian timur, speedboat milik HP dilaporkan bertabrakan dengan kapal patroli bea cukai.

Dalam kejadian tersebut dua ABK speed boat saat itu dilaporkan tewas setelah jatuh ke laut. Sementara pihak BC satu orang terluka.

Dalam kasus tersebut, Bea Cukai menyebutkan petugas mereka diserang oleh High Speed Craft (HSC) 6 mesin mercury yang ditumpangi banyak massa dan melontarkan ancaman. Serangan itu disebut diotaki oleh HP.

Melihat sepak terjang, jejak, dan keberanian HP, diduga, bahkan banyak publik meyakini bisnis yang digeluti HP mengarah pada bisnis ilegal, yang dibekingi oleh sosok penjabat pemerintah, maupun institusi di belakangnya.

Saat ini, kasus berdarah HP dengan BC tengah diselidik kepolisian. Publik berharap, proses penyelidikan HP transparan sehingga memberikan hasil yang jelas.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00