Krisis Lahan Pemakaman, Jenazah Covid-19 Dikremasi?

Foto: ist

KBRN, Jakarta: Saat ini lahan pemakaman umum di Ibu Kota khusus jenazah Covid-19 sangat terbatas. Wacana mengkremasi jenazah yang meninggal karena terinfeksi virus Covid-19 pun muncul.

Terkait hal itu, Anggota Komisi IX DPR RI Saleh Partaonan Daulay menolak dengan tegas kebijakan tersebut. Mengingat, bagi jenazah muslim proses pemakaman dengan menguburkan harus tetap dilakukan.

"Mana boleh dalam Islam itu. Pasti akan ribut," kata Saleh kepada RRI.co.id, Jumat (22/1/2021).

Lebih lanjut, Politisi PAN ini meminta, agar daerah kota penyangga DKI Jakarta seperti Bogor, Bekasi, Depok, dan Tangerang turut andil menyiapkan lahan untuk area pemakaman, sebagai langkah antisipasi krisis lahan pemakaman khusus jenazah Covid-19.

"Boleh itu," tukasnya.

Diketahui, Sri Lanka memutuskan untuk mengkremasi jenazah muslim yang meninggal karena terinfeksi virus Covid-19. Sri Lanka tak menghiraukan keberatan keluarga Muslim dan aturan agama Islam terhadap kebijakan yang telah menjadi kontroversi itu.

Sri Lanka memang tengah mengalami lonjakan kasus Covid-19 sejak Oktober lalu. Jumlah kasus terinfeksi Covid-19 meningkat delapan kali lipat sejak Oktober menjadi sebanyak 29.300 kasus dengan 142 orang meninggal dunia.

Jenazah yang meninggal terinfeksi Covid-19 dikremasi di bawah pengawasan ketat otoritas kesehatan. Namun para keluarga Muslim dari 19 jenazah Muslim yang meninggal karena Covid-19 menolak kebijakan itu dan menolak klaim jenazah dari kamar mayat di Kota Kolombo. Hal itu membuat Jaksa Agung Dappula de Livera mengeluarkan keputusan, bila keluarga tidak mengeklaim jenazah maka kremasi jenazah tetap berjalan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00