Ini Kronologi Lengkap Kasus 'Chaplin' Jusuf Kalla

Foto: ist

KBRN, Jakarta: Polemik kasus mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla bermula saat pengamat politik Rudi S Kamri menyoroti kepulangan Habib Rizieq Syihab (HRS) yang berjudul 'Sang Bandar Chaplin Pun Akhirnya Keluar Sarangnya Karena Kepanasan'.

Dalam tulisannya, Rudi mengungkapkan, bahwa kepulangan Habib Rizieq sebelum Pilkada Serentak 9 Desember 2020 juga bukan hal yang kebetulan. 

"Menurut saya sudah pasti didesaian oleh Sang Chaplin untuk kembali mengobarkan politik identitas ke seluruh pelosok negeri seperti di Pilgub DKI Jakarta 2017. Tujuannya jelas Sang Chaplin ingin menanam saham kepada Kepala Daerah di seluruh pelosok negeri agar bisa mengendalikan politik dan sumberdaya ekonomi sebanyak mungkin," tulis Rudi pada 21 November 2020.

"Saya meyakini sebagai promotor utama atau pemegang lisensi MRS, Chaplin tidak sendirian. Pasti ada Co-Promotor yang mendukungnya khususnya dalam hal pendanaan. Nah di posisi kerjasama harmonis tapi bengis ini maka lahirlah Kelompok Mafioso Trio-C, yaitu Chaplin-Cendana-Cikeas. Dan tentu saja yang bertindak sebagai arranger adalah si kumis tipis Sang Chaplin. Skenario menguasai negara dengan memainkan wayang MRS langsung dimainkan," terang Rudi dalam tulisannya.

- Jubir Jusuf Kalla Angkat Bicara

Menanggapi hal itu, Juru bicara Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), Husain Abdullah langsung angkat bicara terkait tulisan Rudi S Kamri yang dinilai menciptakan kegaduhan dan penyesatan.

"Saya sempat baca tulisan Rudi S Kamri dengan judul , Sang Bandar Chaplin Pun Akhirnya Keluar Sarangnya Karena Kepanasan yang sejak Sabtu 21/11 muncul di beberapa grup WA, kalau itu ditujukan kepada Pak JK, maka tulisan tersebut merupakan sebuah tuduhan membabi buta tanpa fakta dan data yang jelas. Tepatnya cocoklogi mencocok-cocokkan," kata Husain kepada wartawan, Minggu (22/11/2020).

"Tulisan seperti itu bukan saja menciptakan kegaduhan dan penyesatan. Tetapi merusak hubungan sosial, budaya saling menghargai (sebagai mana budaya Bugis-Makassar; Sipakatau) yang mengakar di Indonesia," tambahnya.

Kembali ke pernyataan Husain, dia menegaskan bahwa JK tidak pernah berkomunikasi apalagi mendanai kepulangan Habib Rizieq. Dia juga menyinggung pernyataan mantan politikus Partai Demokrat Ferdinand Hutahean.

"Saya ingin menegaskan, Wakil Presiden RI ke 10 dan 12 M Jusuf Kalla, tidak punya sangkut paut dengan kepulangan Habib Rizieq Shihab. ‘Pak JK tidak pernah mengkomunikasikan atau pun mendanai kepulangan HRS’. Sebagaimana opini yang sedang dibangun para buzzer sejak kepulangan HRS," jelasnya.

"Tuduhan yang bermula dari cuitan Ferdinand Hutahean pada akun twiternya yang sebelumnya dalam suatu dialog di tvOne dengan saya, Ferdinand tidak mampu membuktikan kebenaran cuitannya itu. Kebohongan Ferdinand ini lalu dijadikan dasar oleh Rudi S Kamri, membangun kebohongan baru. Sehingga terjadi kebohongan berantai," paparnya.

Husain kemudian mengungkap sederet agenda Jusuf Kalla pada 20 hingga 25 Oktober. Jusuf Kalla menemui Paus Fransisukus di Vatikan lalu ke Mekkah bertemu Imam besar Al-Azhar Syeikh Ahmad Al Tayeb dalam rangka penjurian pemberian gelar Sayeed Award for Human and Fraternity, acara itu digagas oleh Paus Fransiskus dan Imam besar Al-Azhar.

Usai penandatangan itu, JK menunaikan ibadah umrah. JK menunaikan umrah dengan protokol kesehatan yang ketat.

"Saya sampaikan perjalanan Pak JK ke Vatikan dan Mekkah murni perjalanan misi kemanusiaan dan ibadah. Tidak bersangkut paut dengan kepulangan HRS apalagi politik dalam negeri apalagi 2024," tegasnya.

- Ferdinand Klarifikasi Soal Chaplin

Mantan kader Demokrat, Ferdinand Hutahaean selaku orang yang pertama memposting cuitan Chaplin pun telah mengklarifikasi, bahwa orang yang dimaksud bukanlah mantan Wapres Jusuf Kalla.

"Saya maksud ini bukan Pak JK. Dan tidak menuduh Pak JK," kata Ferdinand dalam dialog kepada PRO-3 RRI, Senin (23/11/2020).

Menanggapi hal itu, Husain pun mengapresiasi sikap Ferdinand yang sudah mau mengakui kata kiasan Chaplin bukan ditujukan kepada JK. 

"Sekarang sudah jelas dan gentleman," ujarnya.

Diketahui, polemik ini bermula dari  Ferdinand Hutahaean yang menyebut ada oknum yang membawa uang satu koper ke Arab Saudi. Entah siapa yang dimaksud, Ferdinand hanya bilang uang itu lantas digunakan untuk membereskan semua masalah di sana. 

"Hebat juga si Caplin, bawa duit sekoper ke Arab, bayar ini itu beres semua," tulis Ferdinand di akun Twitternya, Rabu 4 November 2020.

Mantan kader Partai Demokrat ini pun menghubungkan orang yang sementara berada di Arab itu dengan agenda politik di tanah air. Agenda politik 2022 menuju 2024 sudah dipanasi lebih awal. 

Lalu, ia menyebutkan "Tampaknya Presiden akan sangat disibukkan oleh kegaduhan rekayasa Caplin demi anak emasnya si asu pemilik bus edan." Ketika itu, publik telah dihebohkan kabar kepulangan pemimpin Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Syihab (HRS) bersama keluarganya.

Akhirnya publik pun mengasumsikan bahwa sebutan Chaplin adalah Jusuf Kalla, sedang seorang satunya adalah Anies Baswedan. Apalagi, secara jelas sejumlah media telah menyoroti ada poros politik baru selepas kepulangan tokoh berorasi menghujani pendukungnya dengan sumpah serapah di Petamburan itu. Poros politik itu, Anies-HRS-JK.

- Ferdinand dan Rudi S Kamri Dilaporkan ke Polisi

Anak mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Muswira Kalla melaporkan Ferdinand Hutahaean dan Rudi S. Kamri ke Badan Reserse Kriminal Polri pada hari ini, Rabu (2/12/2020).

Laporan itu terkait dugaan pencemaran nama baik dan fitnah melalui media sosial Twitter dan Facebook.

Muswira menilai, cuitan Ferdinand dan Rudi sangat menggangu keluarga besarnya dan berunsur fitnah.

"Tulisan tersebut mengganggu kami, saya dan keluarga," ucap Muswira usai membuat laporan, Rabu, (2/12/2020).

Laporan Muswira itu diterima polisi dengan nomor ST/407/XII/Bareskrim tertanggal 2 Desember 2020. Dalam laporannya itu, ia melampirkan bukti berupa tangkapan layar unggahan Ferdinand dan Rudi di Twitter, YouTube, dan Facebook.

- Ferdinand Melawan

Ferdinand Hutahaean mengancam akan melaporkan balik putri mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, Musjwira ke pihak kepolisian.

"Jangan lupa juga saya punya hak hukum, kalau ini nanti tidak bisa dibuktikan saya menyerang pelapor ini bisa diklasifikasikan laporan polisi dengan tujuan mencemarkan nama baik saya dan menyerang kehormatan saya," kata Ferdinad kepada wartawan, Rabu (2/12/2020).

Kendati demikian, Ferdinand pun menyatakan, siap menghadapi proses hukum ini dan memenuhi panggilan polisi nantinya.

"Kalau polisi memanggil saya, saya akan memenuhinya," tuturnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00