Islah: Poster Habib Rizieq Sangat Jumawa

(Dok: republika.co.id)

KBRN, Jakarta: Cendekiawan Muslim, Islah Bahrawi mencermati fenomena pemasangan poster-poster Habib Rizieq Shihab di sejumlah titik di Jabodetabek oleh massa pendukungnya. 

"Poster-poster besar itu minggu-minggu lalu sangat jumawa tidak membayar pajak dan mengancam siapapun yang berani menurunkannya. Publik yang tidak suka terhadap pemandangan ini pasti akan bertanya keberadaan negara," kata Islah di akun Instagramnya yang dilihat rri.co.id, Kamis (19/11/2020). 

"Poster itu, merasa punya negara dalam negara - sang imam yang maha banner", kata seorang pembicara dalam sebuah Webinar," tambahnya. 

Pemasangan poster itu, lanjut Islah, bagian dari upaya pemaksaan kultus individu yang dibangun melalui poster. 

"Yang pernah belajar ilmu politik, atau setidaknya pernah membaca buku Edwin Diamond tentang upaya pemaksaan kultus yang dibangun melalui poster, pasti mengenal istilah "popularitas poster sirkus". Istilah ini dipakai berdasar pola reklame pada awal abad 20, dimana poster sirkus diarak keliling kota dengan beberapa pemain melakukan atraksi jumpalitan di atas truk sebagai daya tarik," terangnya.

"Mereka berusaha membuat kehebohan publik demi pertunjukan yang biasanya bertahan sebulan. Setelah selesai, sirkus berpindah ke kota lain. Poster yang ditempel di tembok-tembok itu lalu dicopot karena telah kadaluwarsa. Diamond menggunakan istilah ini bagi politisi yang terlalu maksi dalam poster visual, tapi mini dalam penguasaan elektoral," tambahnya. 

Islah melihat euforia pendukung Habib Rizieq di Bandara, Gadog dan Petamburan itu ternyata sengaja dibiarkan. Menurutnya, hal ini seperti proses "mengayak" pasir yang perlu kesabaran - pada akhirnya pasir yang halus dan kerikil yang kasar semakin tampak transparan. Banner-banner itu sekarang mulai diturunkan tanpa perlawanan. "Zaman berubah cepat. Sirkus telah bubar, dan mungkin bergeser ke kota lain, bisa karena lelah atau momentum yang sudah tidak lagi berpihak." tegasnya.

Lebih lanjut, Islah menegaskan, sejarah kekuasaan kita memang tidak pernah nyaman dengan postulat caci-maki. Bangsa kita tidak pernah siap dengan ketidaksantunan. Ketika politisasi agama diperkenalkan dengan "brutalitas", yang mendekat kepadanya hanyalah kebodohan, dan yang menolaknya adalah ketentraman.

"Tapi popularitas itu punya logikanya sendiri: pagi anda dewa, siang jadi orang biasa, malam bisa saja terhina," kata sosiolog Kathleen Jamieson," sebut Islah.

"Paling enak memang jadi orang biasa, bebas tanpa kendala. Memaksa tinggi bisa ditabrak pesawat, terlalu tinggi oksigen menipis, agak rendah bisa disamber layangan. Lebih baik tetap di bumi, penjual kopi dan pangkalan ojek hanya ada di sini," tambahnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00