Sulitnya Anak Difabel Belajar Daring Ditengah Pandemi

Mengajar Siswa Difabel.jpg

KBRN, Mataram: Belajar Dalam Jaringan  (Daring) menjadi solusi dari Pemerintah, guna melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) selama pandemi virus corona (Covid-19). 

Kegiatan KBM dengan cara Daring memang menjadi alternatif bagi mereka yang mempunyai infrastruktur pendukung. Namun, hal ini berjalan normal hanya dalam beberapa bulan saja, karena setelahnya banyak protes dari kalangan orang tua bahkan siswa itu sendiri.

Jika belajar daring bagi kalangan siswa normal saja mulai membosankan, lalu bagaimana proses ini bisa berjalan bagi siswa berkebutuhan khusus atau difabel?

Di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), jumlah siswa penyandang disabilitas mencapai 3.298 siswa yang tersebar disekolah negeri maupun swasta, mulai dari jenjang Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas.

Sejak pandemi, para orang tua sibuk untuk mencari solusi lain agar putra-putrinya yang berkebutuhan khusus, bisa memperoleh pendidikan.

Adrian, orang tua siswa di SLB Negeri 1 Mataram mengakui, belajar secara daring bagi putranya yang menyandang autis begitu berat.

Selain masalah jaringan internet dan kuota yang terbatas, persoalan lain yang dihadapi orang tua adalah, sulitnya mengajarkan metode pembelajaran yang dikirimkan pihak sekolah anaknya yang hiper aktif sehingga sulit menerima pelajaran.

Dengan melihat kondisi tersebut, Ardian menginginkan agar kegiatan belajar dengan cara tatap muka segera dibuka, meski dilakukan terbatas.

“Masih banyak keterbatasan-keterbatasan termasuk baik dari dukungan internet dan tidak semua orang tua juga mengerti belajar dengan sistem daring, perangkatnya tidak mendukung. Yang jelas belum merata pemahaman kedua belah pihak enggak hanya orang tua tapi guru juga belum memahami," ujarnya, Kamis (13/8/2020).

Bagi kalangan guru, proses belajar mengajar dengan cara daring justru memberikan tugas ganda karena sebelum pendidikan ddiberikan kepada siswa berkebutuhan khusus, materi pelajaran sebelumnya harus  diajarkan kepada orang tua siswa. 

Lutfia Idha Fariani, Guru di SLB Ngeri 1 Mataram mengakui, tantangan mengajarkan siswa berkebutuhan khusus saat pandemi semakin sulit karena tidak semua orang tua memiliki HP android. Akibatnya, setiap guru harus turun langsung mencari siswa dirumah masing-masing. 

Kendalanya adalah, beberapa siswa justru tinggal dikawasan yang masuk dalam zona merah penyebaran covid-19 sehingga cukup mengkhawatirkan.

"Yang android itu yang punya 25 persen dan punya HP biasa itu ada 50 persen. Kayak murid saya aja yang hanya 5 yang punya WA hanya satu yang TK ini padahal yang TK ini banyak kelas, ada yang tuna grahita, tuna rungu. Kita ambil contoh dari lima siswa saya yang punya WA itu satu orang," imbuhnya.

Suasana Belajar Anak Difabel (Doc RRI).jpg

Asniarti guru Tuna Grahita lainnya mengaku lebih memilih melakukan kunjungan ke setiap siswa untuk mengurangi beban orang tua siswa. Sebelumnya sudah melakukan pembelajaran secara daring namun lebih banyak menemukan kendala.

Menurut Asniarti, belajar secara daring justru lebih menyulitkan orang tua, bahkan proses pembelajaran tidak sesuai harapan. Apalagi siswa berkebutuhan khusus, membutuhkan cara penanganan dan pembelajaran khusus pada setiap mata pelajaran.

"Kami sudah terjun kelapangan ternyata ada beberapa siswa kami yang sakit ditempat tidur. Jadi kita sendiri tidak tahu sebelumnya jika anak yang kita kasi tugas sebab yang mengambil tugas ke sekolah orang tua sebab anak-anak tidak boleh," ucapnya.

"Setelah kita pantau kerumahnya ternyata dia sakit dan tugas sekolah dapat dikerjakan jika mereka sudah sehat," sambungnya.

Melihat beragam kendala yang dihadapi  pendidikan khsusus ini, Pemerintah Provinsi NTB mengambil kebijakan untuk membentuk guru kunjung. 

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB, Doktor Haji Aidi Furqan menjelaskan, pada program ini guru langsung mengunjungi siswa berkebutuhan khusus. Dengan guru kunjung semua proses pendidikan akan bisa dirasakan oleh anak berkebutuhan khusus. 

Ia mengakui, proses pembelajaran bisa dilakukan secara daring, namun anak berkebutuhan khusus tidak akan bisa memperoleh fungsi lainnya, seperti fungsi mendidik. Berbeda halnya dengan siswa normal yang dengan mudah mengakses pembelajaran dengan cara daring.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB, Doktor Haji Aidi Furqan (Doc RRI) .jpg

Program guru kunjung kata Aidi Furqan juga dilaksanakan secara periodik. Para guru juga dibekali dengan kelengakapan protokol kesehatan covid-19 serta setiap guru yang bertugas harus dalam kondisi yang sehat untuk mengajar. 

"Kalau tugas mengajar itukan bisa diwakili oleh media, google dan lainnya. Akan tetapi transfer melalui misi mendidiknya saya tidak mau itu terlalu lama hilang hingga menyebabkan anak merasa tidak ada kehadiran di sekolah  dan bapak ibu guru juga tidak terlalu lama mengalami kesulitan. Maka dengan guru kunjung ini saya lihat cukup efektif untuk memotivasi belajar anak-anak dan juga memberikan dukungan moril kepada para orang tua lebih-lebih yang SLB," tandasnya.

Secara keseluruhan, Dinas Pendidikan NTB mencatat, hanya sebagian saja dari jumlah sekolah di NTB yang melaksanakan pendidikan dengan cara daring. Itupun baru diimpelementasikan disebagian besar sekolah negeri. 

Lalu bagaimana nasib para siswa yang dihadapkan dengan segala keterbatasan sarana prasarana dan jangkauan jaringan?...... 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00