Lulusan SMK Dituding Penyumbang Angka Pengangguran Terbesar

Seorang laboran membuat video pembelajaran praktikum di SMK-SMTI Yogyakarta, Umbulharjo, DI Yogyakarta, Senin (10/8/2020). Selama pandemi COVID-19, pengajar di sekolah tersebut membuat video pembelajaran praktikum agar siswa sekolah kejuruan tetap dapat mengerti prinsip dasar pelajaran praktik selama proses pembelajaran jarak jauh (Ant/Hendra Nurdiyansyah)

KBRN, Jakarta: Ada penilaian mengemuka bahwa sekolah vokasi merupakan penyumbang terbesar angka pengangguran nasional.

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Wikan Sakarinto langsung membantahnya.

Menurut Wikan, saat ini di seluruh Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Indonesia, kurikulumnya terus diperbarui dan disesuaikan dengan kebutuhan industri.

"Setelah saya keliling ke berbagai SMK di Indonesia, setiap tahun kurikulumnya disinkronkan dengan industri. Ternyata hanya 20 persen yang menganggur, sedangkan 80 persennya bekerja, terserap, atau kuliah," kata Wikan saat mengunjungi SMKN 27 Jakarta Pusat, Selasa (11/08/2020).

Wikan menambahkan bahwa sebuah negara maju diukur dari vokasinya.

"Penting untuk membangun industri dan SDM unggul untuk meningkatkan produktivitas negara," ujar Wikan.

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Wikan Sakarinto (Dok. RRI)

Oleh karena itulah, titik tolak pertama untuk memperoleh SDM yang unggul adalah calon peserta didik harus memilih jenjang pendidikan yang tepat sesuai minat.

Ia meyakini, ketika seseorang mempelajari sesuatu dalam keadaan senang, orang tersebut akan menjadi peserta didik yang menjalani prosesnya dengan bahagia.

"Jika lebih menyukai analisis silakan masuk ke SMA, jika lebih menyukai keterampilan, silakan pilih SMK," ungkap Wikan.

Menurutnya, saat ini industri bahkan hingga membuat kelas khusus di SMK guna menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang unggul.

“Seharusnya sekarang lulusan SMK bisa langsung diserap industri, tak hanya yang besar tapi ada juga dari UMKM, Pemda, dan organisasi non-pemerintah (NGO),” katanya.

Dia menegaskan, lulusan SMK juga jangan sampai hanya menganggur. Lulus SMK jika tak langsung kerja tetap bisa kuliah, jadi lulusan sarjana terapan /D4 dan bisa lanjut S2 terapan. 

“Kita sudah MoU dengan universitas di Jerman untuk bisa menyediakan S2 terapan di Jerman," kata Wikan.

Salah satu kelebihan SMK, kata Wikan, adalah dapat menyalurkan minat anak.

Hal bisa membuat anak belajar dengan lebih bahagia dan tanpa keterpaksaan.

"Sepertinya, kita masih harus menyadarkan orang tua siswa SMP se-Indonesia, kalau satu-satunyanya jalan untuk sukses di Indonesia bukan semata masuk SMA favorit, SMK juga bisa. Apalagi kalau di SMK dia belajar sesuai passion," pungkas Wikan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00