Kasus Perkosaan Bintaro, Perempuan Jangan Takut Bicara

Tangkap layar CCTV dalam kasus pemerkosaan Bintaro, Jakarta Selatan (DOk. Istimewa)

KBRN, Jakarta: Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mendorong kasus dugaan perkosaan yang viral di Bintaro diusut tuntas kepolisian.

Wakil Ketua LPSK Livia Iskandar DF Iskandar berharap pelaku mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatan kejinya itu.

“Kami rasa sederet bukti yang dibeberkan oleh korban sudah cukup untuk menjerat pelaku,” ujar Livia kepada wartawan, Senin (10/8/2020).

Penuntasan kasus ini menjadi penting menurut Livia. Selain untuk membantu pemulihan kondisi psikis korban, kata Livia, nantinya kasus ini juga bisa menginspirasi perempuan lain yang bernasib sama untuk berani bersuara.

“Saya sangat kagum atas keberanian korban yang berjuang mengungkap kasus ini tanpa rasa takut, tentu hal tersebut tidak mudah apalagi korban juga sempat diancam pelaku. LPSK juga siap memberikan perlindungan bagi sang korban,” ungkap Livia.

Untuk itu Livia juga mengajak seluruh perempuan dan anak untuk berani melapor bila memgalami kasus serupa.

BACA JUGA: Setahun Trauma, Korban Pemerkorsaan Bintaro Angkat Bicara

LPSK lanjut Livia akan selalu siap menerima permohonan perlindungan bagi para korban yang merasa terancam, sehingga takut melapor.

Adapun perlindungan yang disediakan LPSK seperti perlindungan fisik, rehabilitasi medis dan rehabilitasi psikologis.

“Banyak cara yang bisa dilakukan korban untuk mengajukan permohonan perlindungan ke LPSK, mulai dari call center di nomor 148, nomor WhatsApp permohonan perlindungan di nomor 0857-700-10048 atau akun media sosial LPSK,” tuturnya.

Di sisi lain, Livia berpandangan dengan munculnya kasus ini ke publik seakan menjadi pengingat pentingnya kembali melanjutkan pembahasan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) di DPR.

Banyak pihak, utamanya perempuan yang menurutnya menunggu pengesahan aturan tersebut.

Sebagai informasi, sesuai catatan laporan permohonan perlindungan pada korban kekerasan seksual yang masuk ke LPSK sendiri angkanya terus meningkat dari tahun ke tahun.

Pada tahun 2016 setidaknya ada 66 permohonan perlindungan kasus kekerasan seksual, di tahun 2017 jumlahnya naik menjadi 111, di tahun 2018 naik lagi menjadi 284 permohonan, kemudian di tahun 2019 menjadi 373 permohonan perlindungan.

Sedangkan per 15 Juni 2020 jumlah terlindung LPSK mencapai 501 korban.

Namun angka permohonan perlindungan ini disebut belum bisa menggambarkan jumlah korban kekerasan seksual yang sesungguhnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00