Siswa Banyak DO, Mendikbud Diminta Turun Tangan

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy (Doc Istimewa) .jpg

KBRN, Jakarta: Tingginya potensi tidak berlanjutnya sekolah siswa (drop out) adalah di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy mengatakan, ada sekitar 56 persen angkatan kerja di Indonesia merupakan tamatan SMP ke bawah.

"Di tingkat SMP inilah yang menjadi ancaman paling tinggi adalah drop out. Bayangkan sekarang angkatan kerja kita itu 56 persen itu masih tamatan SMP ke bawah yaitu sebagian besar adalah tamatan SD dan tidak tamat SD," kata Muhadjir pada acara Peringatan Hari Anak Nasional yang dilakukan Kowani secara daring, Selasa (04/08/2020).

Oleh sebab itu, Menko PMK Muhadjir meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim untuk segera mengurusi persoalan pendidikan sehingga dapat menekan angka drop out di jenjang SMP ini.

"Bagaimana kita mau membangun sumber daya yang unggul kalau kondisinya itu masih seperti itu. Maka ketika sekarang ini, tugas dari Kemendikbud khususnya bagaimana meningkatkan angka partisipasi murni dari usia dini, SD sampai SMP," ujar Muhadjir.

Saat ini menurut Muhadjir, serapan angkatan kerja paling banyak berasal dari lulusan SD dan SMP.

Rendahnya kualitas ini membuat jumlah upah yang diterima angkatan kerja Indonesia sangat rendah.

Muhadjir mengungkapkan hal ini dikarenakan para pekerja lulusan SD dan SMP mendapatkan pekerjaan yang sembarangan

"Itu tidak mungkin kita membawa Indonesia menjadi negara maju kalau kualitas angkatan kerja kita seperti itu," tandas Muhadjir.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00