Pengakuan Mahasiswi Aceh di China Soal Wabah Corona, Dilarang Makan Pisang dan Nenas

KBRN, Banda Aceh : Syarifah Huswatun Miswar, salah satu mahasiswi Aceh yang menempuh pendidikan di Jilin University, Chanchung, Provinsi Jilin mengaku hingga saat ini masih belum bisa keluar dari Negara tirai bambu itu terkait wabah virus corona.

Dalam sebuah video yang diterima RRI, Senin (27/1/2020), Syarifah mengungkapkan, penyebaran virus corona di kota Chanchung tidak separah seperti di Kota Wuhan.

“Menanggapi virus corona di Changcun dan Jilin sendiri tidak separah di daerah Wuhan, Hubei dan sekitarnya, kami dapatkan berita update kemarin tiga masyarakat terdeteksi terjangkit virus corona, itu membuat pemerintah Changchung  meningkatkan dari siaga 4 ke siaga 1,” kata mahasiswi jurusan hububungan internasional master itu.

Dia menuturkan, saat ini dirinya bersama sejumlah mahasiswa lain masih bertahan di asrama dan dalam kondisi sehat, tidak terpapar virus mematikan itu.

“Masih bisa keluar masih bisa membeli makanan, dan stok makanan kami masih ada. Kalau perbatasan wilayah lain selain Wuhan tidak ditutup. Jadi pemasokan logistik masih teratasi, kira-kira cukup sampai bulan Februari,” kata Dia.

Syarifah menyebut, pemerintah Changchung mengeluarkan imbauan kepada masyarakat di sana untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan. Selain itu juga melarang makan sejumlah buah-buahan.

“Ada pengumuman dilarang makan pisang, nanas, khusus yang impor berasal dari wilayah selatan. Karena dikhawatirkan akan terjangkit virus corona. Meskipun demikian pemerintah China, pusat maupun distrik telah menanggapi berusaha mengatasi penyebaran virus corona ini,” ucapnya.

Syarifah juga menceritakan pengalaman dirinya terjebak saat berkunjung ke asrama mahasiswa lain yang kini masih diisolasi. Alhasil, dirinya tidak bisa menyelesaikan tugas kuliahnya.  

“Kemarin saya terjebak di asrama kawan, sehingga saya tidak bisa meyelesaikan tesis saya, karena saya tidak diperbolehkan keluar. Jadi saya mohon waktu diperpanjang penyelesaian tesis saya. Saya harap teman-teman, guru, yang ada di Aceh tidak perlu khawatir karena pemerintah saat ini terus berusaha yang terbaik untuk mencegah penyebaran virus corona,” sebutnya.

Pemerintah Aceh mencatat, jumlah mahasiswa Aceh yang berada di China mencapai 27 orang. Sementara 12 di antaranya masih terjebak di Kota Wuhan, Provinsi Hubei. Pemerintah Aceh juga telah mengirim bantuan berupa uang ke rekening masing-masing mahasiswa untuk membeli pasokan makanan, karena kabarnya pasokan makanan di Kota Wuhan telah menipis dan harganya mahal.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00