Berada di 15 Kota Karantina Akibat Virus Corona, Indonesia Serius Tangani WNI di Tiongkok

KBRN, Jakarta : Penyebaran virus corona (2019-nCoV) yang bermula di kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok, kini semakin menakutkan. Belum genap sebulan penyebarannya, virus yang disebut-sebut berasal dari kelelawar itu telah menewaskan 80 orang berdasarkan data Komisi Kesehatan Nasional RRT (NHC) pada tanggal 26 Januari 2020 pukul 13 : 48. Termasuk, 2.762 pasien terinfeksi serta 5.794 pasien terduga terinfeksi virus mematikan tersebut. Selain, wilayah terjangkit telah mencapai 29 provinsi/kota dari 31 provinsi di Tiongkok.

Wabah virus Corona itupun membuat pemerintah Indonesia turut khawatir, pasalnya tidak sedikit Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di sejumlah kota maupun provinsi yang terjangkit. Saat ini, sebanyak 243 WNI menjadi fokus perhatian pemerintah Indonesia, menyusul ratusan WNI itu berada pada 15 kota yang dikarantina oleh pemerintah Tiongkok.  243 WNI tersebut sebagian besar mahasiswa itu tersebar di Wuhan, Xianing, Huangshi. Jingzhou, Xianyang, Enshi dan Shiyan. Kondisi merekapun dikabarkan dalam keadaan sehat.

Plt Juru Bicara kementerian Luar Negeri RI, Teuku Faizasyah, menyatakan, Kedutaan Besar RI (KBRI) di Beijing telah menyalurkan bantuan logistik kepada para mahasiswa di kota-kota karantina dan persediaan yang ada akan cukup hingga beberapa hari kedepan. “Kita sangat mengandalkan mekanisme kondisi di lapangan dan teman-teman mahasiswa mhs di sana sangat memahami. Komunikasi kami terakhir dengan WNI di Wuhan bahwa sembako tidak sulit didapatkan, hanya memang tidak semua toko buka. KBRI di Beijing sudah membetuk rencana kontigensi,” ujar Teuku Faizasyah dalam konferensi pers yang digelar Senin (27/1/2020), di ruang Palapa, Kementerian Luar Negeri, Jakarta.

Faizasyah menyatakan, kemungkinan bantuan finansial juga akan diberikan pemerintah, menyusul naiknya harga barang-barang kebutuhan di Tiongkok. “Ya betul, kita sedang lakukan assesment dengan pak Dubes, dari waktu ke waktu nanti kita berikan bantuan finansial juga ya. Itu mekanisme yang dimungkinkan. Itu nanti kita akan bahas dengan KBRI kita di sana, tidak semua bisa kita putuskan sekarang,” jelasnya.

Sejumlah negara merencanakan untuk mengevakuasi warganya keluar dari Tiongkok, seperti Perancis, Amerika Serikat serta Australia. Menurut Faizasyah, pemerintah terus melakukan koordinasi dengan pemerintah Tiongkok terkait perkembangan di lapangan hingga jika nantinya mengharuskan dimulainya evakuasi WNI. “Persiapan teknis belum semua ya, yang penting semua sistem sudah siap dan siap di activate jika kita memulainya. Teknisnya yang penting adalah list orang-orang itu sudah kita miliki. Nanti pada waktunya kita akan sampaikan protap yang harus mereka patuhi juga. Semua akan mendapatkan banyak guidance dari pemerintah Tiongkok, karena kita tidak dapat bisa bekerja sendiri. Negosiasi dalam artian nanti mekanismenya seperti apa, harus ada understanding dulu bahwa kita merencanakan hal tersebut, message (pesan) telah disampaikan,” terang Faizasyah lagi.

Direkur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri RI, Judha Nugraha, mengatakan, klasifikasi provinsi Hubei untuk dikunjungi turis Indonesia yang dapat dilihat di aplikasi SAFE Travel yaitu bewarna merah yang berarti berbahaya untuk dikunjungi. “SAFE travel ini adalah aplikasi kemenlu untuk memudahkan warga kita mendapatkan update mengenai situasi terakhir dari negara yang akan dia kunjungi. Kami menghimbau WNI yang akan bepergian untuk mendownload aplikasi SAFE travel. Untuk RRT sudah ada klasifikasi warna, ada 4 hijau, kuning, oranye dan merah. Dan itu dilakukan by region tidak hanya satu negara. Jadi, untuk RRT itu warnanya kuning. Tapi, khusus untuk provinsi Hubei statusnya merah sampai saat ini,” imbuh Judha.

Judha juga mengingatkan bagi WNI yang melakukan kunjungan ke Tiongkok untuk lapor diri ke KBRI. “Kami juga mengimbau pentingnya warga kita untuk lapor diri. Agar nanti warga kita bisa terlindungi kalau KBRI tidak aware dengan posisi WNI kita,” ungkapnya.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Ahmad Yurianto, mengimbau masyarakat untuk tidak salah kaprah dalam memahami media penularan virus Corona yang dapat menular melalui barang-barang produk Tiongkok. “Olehkarena itu, jika terkait barang-barang dan sebagainya barang tentu ini bukan sel hidupkan. Olehkarena itu, sangat tidak memungkinkan kalau ini menular melalui barang, pakaian ataupun produk-produk itu. Sehingga, ini yang harus kita jelaskan kepada masyarakat tidak perlu takut berlebihkan terkait itu,” jelas Ahmad.

Namun, menurut Ahmad yang terpenting justru masyarakat harus menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh, agar dapat terhindar dari penularan virus Corona yang dapat ditularkan dari kontak antar orang itu. “Tetapi, justru titik lemah yang kami perhatikan di masyarakat kita, ada kebiasaan-kebiasaan ini data yang kita lakukan dari observasi-observasi dalam satu menit rata-rata orang itu menyentuh mata, hidung dan mulut paling tidak dua kali tanpa disadari. Kalau tangan ini tercemar inikan sama seperti memasukkan sesuatu ke dalam mulut dan hidung kita. Ini yang harus kita tekankan ke masyarakat agar dirinya sehat. Kalau untuk barang-barang, reasoningnya tidak terlalu kuat untuk kita katakan ini bisa menularkan,” paparnya.

Sementara, semakin mengerikannya penyebaran virus Corona yang terjadi di Amerika Serikat, Kanada, hingga sejumlah negara tetangga, Senin (27/1/2020), pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri resmi mengeluarkan “Travel Advisory” atau “Saran Bepergian” kepada WNI untuk mengunjungi Tiongkok. WNI dianjurkan mengedepankan kehati-hatian, terutama untuk tidak mengunjungi kota maupun provinsi di Tiongkok yang dilaporkan terjangkit virus Corona. (Foto:Dok.Kemenlu RI)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00