Kementan Pastikan Indonesia Siap Menghadapi Krisis Pangan Dunia

Foto udara petani merawat tanaman padi di Desa Darmaraja, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. (Foto: ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/aww)

KBRN, Jakarta: Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan Indonesia siap dalam menghadapi ancaman krisis pangan dunia. Hal ini terbukti dari kondisi neraca 12 bahan pokok yang masih dalam kategori kondusif.

"Neraca pangan kita menunjukkan kita dalam kondisi yang kondusif," kata Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan Boga, dalam Webinar bertajuk Ngobrol Seputar Pertanian Terkini (NGOPI) bareng Bako Humas, Rabu (10/8/2022).

Boga mengungkapkan, hampir seluruh komoditas pangan pokok Indonesia bisa di produksi di dalam negeri. Bahkan, stoknya dalam kondisi surplus hingga tahun 2022 saat ini.

Seperti misalnya beras surplus 7,5 juta ton, hingga jagung 2,8 juta ton. Hanya saja, kata Boga, terdapat tiga bahan pokok seperti bawang putih, gula, hingga daging sapi yang masih membutuhkan subtitusi impor.

"Kecuali yang berwarna merah, merah itu artinya kita masih membutuhkan subtitusi dari impor," ujarnya.

Ia merinci, dari ketiganya bahan pokok tersebut, bawang putih yang paling membutuhkan impor dari Cina. Hal itu dikarenakan stoknya kurang untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. 

Adapun total kekuranganya mencapai 366.900 ton. Maka peningkatan produksi komoditi ini perlu ditingkatkan. 

Sementara untuk gula konsumsi, sebanyak 80-90 peren sudah bisa di produksi dalam negeri. Kemudian 60-70 persen daging juga sudah mampu dipenuhi dari produksi dalam negeri.

"Kira-kira kondisi neraca pangan kita seperti ini," ucapnya.

Lebih lanjut, ia mengajak agar para petani optimis dalam menghadapi kondisi pangan yang terjadi di dunia saat ini. Adapun yang terpenting, Indonesia harus tetap berproduksi seperti biasanya.

"Sehingga kita perlu optimis dan kita di Kementan sebagai sektor yang bertanggun jawab terhadap perekonomian khsusnya pertanian secara umum menyampaikan bahwa kita perlu optimis. Petani kita siap menghadapi pangan saat ini, kondisi dunia dan yang terpenting kita tetap berproduksi tetap biasa," katanya, menambahkan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar