Menteri Pertanian Targetkan Budaya Baru Sistem Pemupukan

Petani mengangkut kangkung hasil panen di Nongsa, Batam, Kepulauan Riau, Selasa (19/7/2022). ANTARA FOTO/Teguh Prihatna/rwa.

KBRN, Jakarta: Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo memberikan waktu 3 bulan pada jajarannya untuk membentuk budaya baru sistem pemupukan Indonesia. Rinciannya, satu bulan pertama masuk tahap uji coba, bulan kedua tahapan penerapan konsep baru pemupukan, kemudian melihat hasilnya di bulan ketiga. 

"Ini yang aku tunggu nih, ada gak budaya baru? Sekarang kau pakai berapa pupuk, setelah terapan ini berapa yang kurang. Bagaimana produktivitasnya dll sebagainya, kita tunggu," kata Syahrul di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (8/8/2022).

Budaya baru yang dimaksud, pertama tidak bergantung lagi pada pupuk kimia tapi coba menggunakan pupuk organik yang bahannya berasal dari sekitar petani. Sehingga diperlukan konsep yang matang agar perubahan penggunaan pupuk tidak menganggu produktivitas sektor pertanian Indonesia.

Kemudian, penggunaan pupuk yang tepat guna. Maksudnya, tidak ada lagi penggunaan yang berlebih pada suatu lahan pertanian. Semisal dalam setiap satu hektare lahan pertanian cukup dengan 200-300 kg pupuk saja.

Mengingat selama ini masih ada petani yang menggunakan hingga 500 kg untuk 1 hektare lahan pertanian. 

"Arena kita selama ini pakai pupuk rata-rata 500 kg per 1 hektare. Padahal menurut orang cukup 300 kg, kadang-kadang 200 kg cukup. Berarti banyak yang lebih. Apakah itu betul? "kata Syahrul. 

Pemerintah mengalokasikan Rp 25 triliun untuk subsidi pupuk 16 juta petani. Akan tetapi pupuk yang disalurkan hanya ada 2 jenis, Urea dan NPK. 

Subisidi pupuk ini juga terbatas hanya menyasar 9 komoditas utama, padi, jagung, kedelai, cabai, bawang merah, bawang putih, kopi, kakao, dan tebu rakyat.

Penyesuaian penggunaan pupuk ini tak lepas dari kondisi geopolitik yang dialami dunia, mulai dari perang Ukraina dan Rusia, krisis pangan hingga krisis energi. Sehingga penggunaan pupuk secara tepat dan terukur akan membuat penghematan devisa. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar