FOKUS: #PPKM MIKRO

Prediksi, 19.9 Juta Orang Lakukan Mobilitas Nataru

Pengunjung memadati kawasan Pantai Maju di Jakarta, Minggu (24/10/2021). Pantai Maju menjadi salah satu lokasi yang dijadikan tempat wisata warga Jakarta dan sekitarnya karena ditunjang fasilitas jalur Jalan Sehat dan Sepeda Santai (Jalasena) serta pemandangan teluk Jakarta. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

KBRN, Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan memperkirakan adanya peningkatan mobilitas masa Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). 

"Berdasarkan hasil survey Balitbang Kemenhub, untuk wilayah Jawa Bali yang diperkirakan akan melakukan perjalanan sekitar 19.9 juta jiwa, sedangkan Jabodetabek 4.45 juta jiwa," ungkap Luhut dalam konferensi pers virtual, seperti dikutip RRI.co.id, Senin (25/10/2021).

Peningkatan pergerakan penduduk ini, jika tanpa pengaturan protokol kesehatan yang ketat akan meningkatkan risiko penyebaran kasus. 

"Mengenai hal ini, Presiden juga memberikan arahan tegas kepada kami semua untuk segera mengambil langkah terkait keputusan dan kebijakan mengenai hal ini dan merancang agar tidak ada peningkatan kasus akibat liburan nataru," ujarnya.

Menko Luhut mengatakan, terkait dengan kewajiban penggunaan PCR yang dilakukan pada  transportasi pesawat, tujuan utamanya yaitu untuk menyeimbangkan relaksasi yang dilakukan pada aktivitas masyarakat, terutama pada sektor pariwisata.  

Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan

"Meskipun kasus kita saat ini sudah rendah, belajar dari pengalaman negara lain kita tetap harus memperkuat 3T dan 3M supaya kasus tidak kembali meningkat, terutama menghadapi periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru)," imbuhnya.

Oleh karena itu, secara bertahap penggunaan tes PCR akan juga diterapkan pada transportasi lainnya selama dalam mengantisipasi periode Nataru. 

BACA JUGA: Kasus COVID-19 Jawa-Bali Turun 98.9 Persen

Pada kesempatan yang sama, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, untuk menekan lonjakan kasus pada libur natal dan tahun baru, Pemerintah sudah melakukan berbagai langkah.

Pertama, terus memonitor perkembangan varian baru virus penyebab Covid-19 yang berpotensi mengkhawatirkan. 

"Kami sudah lihat, di Inggris ada satu varian yang berpotensi mengkhawatirkan, yaitu AY.4.2 tetapi belum masuk di Indonesia dan kami monitor perkembangannya seperti apa," kata Menteri Budi. 

Menteri Budi juga mengatakan, kendati masih berada di bawah ambang batas yang ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), pemerintah terus mengawasi peningkatan kasus Covid-19 pada 105 kabupaten dan kota di Indonesia selama dua pekan terakhir. 

“Tapi kita mencoba mengantisipasi secara lebih dini agar jangan sampai euphoria yang berlebihan membuat kita jadi lengah, tidak waspada, dan kenaikan di 105 kabupaten kota ini kemudian menjadi tidak terkontrol, karena kenaikan jadi sangat tinggi," katanya. 

Untuk itu, dari sisi surveillance, Pemerintah akan memastikan semua kontak erat harus mendapat testing.

“Selain kasus konfrimasi, seluruh kontak erat harus dilakukan testing-nya. Jadi protokol 3T (tracing, testing, treatment)-nya harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Selanjutnya, pemerintah juga memastikan percepatan program vaksinasi, khususnya terhadap para lansia, ” pungkas Menteri Budi. (Miechell Octovy Koagouw)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00