Rois Syuriah PCINU AS: Toleransi Sebuah Keharusan

Foto: (dok. IST)

KBRN, Jakarta: Mengimplementasikan gerakan toleransi dari diskursus atau ide ke dalam sebuah praktik kehidupan tidaklah mudah, sehingga perlu perbedaan akademik yang jelas untuk dapat dipahami dengan mudah. 

Hal itu disampaikan Rois Syuriah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Amerika Serikat (AS), Ahmad Sholahuddin Kafrawi saat menjadi pembicara dalam acara Webinar Internasional Peringatan Hari Santri 2021, Rabithah Ma'ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI-PBNU), Santri Membangun Negeri, dengan tajuk Sudut Pandang Politik, Ekonomi, Budaya, dan Revolusi Teknolog secara daring melalui Zoom Meeting dan YouTube TV9 Official, Rabu (20/10/2021).

“Kalau benar-benar toleran, apakah kita akan toleran terhadap individu atau kelompok dan gerakan yang intoleran?” kata Sholahuddin.

Sholahuddin menjelaskan, di dalam tataran diskursus atau ide, toleransi itu harus toleran pada berbagai macam perbedaan, termasuk intoleransi.

“Secara diskursus itu ya merupakan sebuah keharusan. Bila kita toleran harus mentoleransi termasuk yang tidak toleran. Masak diskursus aja tentang mentoleransi gerakan yang tidak toleran tidak bisa ditoleransi? Itu pada tataran ide,” ungkapnya.

“Itu konsistensi, karena walau gimana itu sangat penting. Kenapa? Karena dalam ajaran islam kita diajarkan untuk konsisten. Salah satu amalan yang dapat mengantarkan kita kepada kebajikan dunia akhirat adalah istiqomah atau konsistensi,” tambah Sholahuddin.

Namun pada tataran pemikiran atau pendapat yang bisa diinterpretasikan dapat dilakukan, lanjutannya, perlu diteskan. Karena dalam bentuk praktek, toleran terhadap intoleransi akan menghilang dan tidak ada sama sekali.

“Saya akan mengemukakan sebuah paradoks, bila kita toleran terhadap intoleransi maka toleransi akan hilang, karena yang akan berkuasa adalah kelompok atau individu orang-orang yang tidak toleran tadi, maka tidak ada toleran,” ungkap Sholahuddin.

Lebih lanjut ia menuturkan, Indonesia sebagai satu bangsa yang majemuk, toleransi dapat menjadi satu tata nilai menyelesaikan berbagai macam tantangan yang bersifat universal.

“Kalau kita tidak memiliki prinsip-prinsip dasar yang bersifat universal, maka kita akan berkutat pada hal yang bersifat partikular yang itu sangat dipengaruhi oleh relativitas waktu dan tempat,” jelasnya.

“Tasamuh atau toleran merupakan suatu nilai yang kita junjung tinggi. kenapa harus toleran? Kita bisa jawab dengan kenyataan bahwa masyarakat indonesia dan masyarakat global adalah masyarakat yang majemuk,” imbuh Sholahuddin.

Masyarakat indonesia yang majemuk itu, jelasnya, memiliki mimpi dan visi bersama, yaitu masyarakat yang merdeka, berperikemanusiaan, adil, beradab, hidup makmur damai dan bahagia. 

“Untuk menuju ke arah situ, toleransi menjadi sebuah keniscayaan. Warga masyarakat harus menerima dan menghormati berbagai bentuk perbedaan dalam rangka merealisasikan mimpi bersama tadi,” tuturnya.

“Apabila tidak toleran, sudah barang tentu berbagai perbedaan tadi menjadi potensi konflik yang tidak sehat dan akhirnya saling menghancurkan,” tukas Sholahuddin.

Acara itu dihadiri juga oleh Wakil Presiden Ma’ruf Amin, Ketua RMI- PBNU Abdul Ghofar Rozin, PCI NU Australia Eva Fachrunnisa, Pengasuh Pesantren AL- Anwar Sarang Abdul Ghofur Maimoen, dan Nadhirsyah Husein atau Gus Nadir.

Sebagai tambahan informasi, Webinar Internasional Peringatan Hari Santri 2021, Santri Membangun Negeri, oleh RMI-PBNU sesi kedua akan laksanakan pada hari, Kamis (11/10/2021) besok.

Dalam Webinar Internasional kedua nanti, pihak pelaksana menghadirkan Wakil Menlu RI Mahendra Siregar, Mendikbud-Ristek Nadiem Anwar Makarim, Ketua Ketua RMI-PBNU Abdul Ghofar Rozin dan lima pembicara lainnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00