FOTO: Kompetisi Media Massa

KBRN, Jakarta: Dalam setahun terakhir, sejumlah media massa khususnya media cetak nasional terpaksa gulung tikar atau tidak dapat melanjutkan usahanya seperti IndoPos, Suara Pembaruan, Jakarta Post, Top Skor, dan Tabloid Bola harus menutup perusahaan mereka.

Ditengarai salah satu penyebab adalah biaya produksi semakin tinggi tidak diimbangi dengan pemasukan iklan koran.

Selain dampak kompetisi pada era digitalisasi membuat media cetak  tutup beroperasi, faktor mempengaruhi lainnya juga disebabkan menurunnya minat beli selama memasuki pandemi Covid-19.

Pantauan rri.co.id, Rabu (7/4/2021) hanya sebagian media cetak yang kini bertahan dan dijual pada beberapa agen.

Grup media besar seperti Gramedia, Jawa Pos, Media Grup, Mahaka, dan MNC grupnmasih memproduksi korannya.

Kondisi ini juga berdampak pada pengecer di jalan, meskipun ada yang bertahan, mereka sadar jika bisnis yang selama ini dijalani pasti akan segera mati.

Semangat juang para penjual koran tidak pernah redup, hanya karena suka membaca dan cinta memaksa mereka tetap eksis mencari nafkah. Berikut gambarnya.

1. Arie Sumartani 55 tahun sudah menjadi agen koran sejak 27 tahun meneruskan usaha ayahnya.

2. Penghasilan dari penjualan koran makin menurun, setiap hari sebelum pandemi sehari koran terjual sekurangnya 5000 eksemplar, sementara saat ini maksimal 400 eksemplar.

3. Januar Hakim (62) masih setia mengantarkan koran bagi langganannya di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan.

4. Sejumlah koran yang masih bertahan hingga saat ini.

5. Warsa (60) dalam kondisi cuaca hujan tetap bekerja mengantar koran dengan sepeda tua.

6. Pembaca setia tabloid wanita masih mencari informasi lain dari rubrik yang disajikan.

7. Salah satu aktivitas keluarga di pagi hari saat ibunya membaca koran sementara anaknya memegang tab membaca media elektronik online.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00