Beragam Tanya Jemaah Saat Bimbingan Ibadah

Jemaah calon haji Indonesia tengah melaksanakan salat sunnah jelang bertolak ke Mekah untuk umrah wajib tawaf Qudum, Selasa (21/6/2022). (Foto: Media Center Haji 2022)

KBRN, Mekah: Keberadaan pembimbing ibadah (bimbad) haji sangat penting bagi jemaah calon haji. Karena tidak seluruh jemaah sudah hafal atau memahami tata cara peribadatan saat berhaji, mereka menjadi tempat bertanya para jemaah.

Berberapa dari mereka bertanya mengenai, tawaf, tips menahan buang gas, hingga tips beribadah di Masjidil Haram.

Untuk menjawab pertanyaan jemaah calon haji, PPIH menghadirkan KH Aris Nikmatullah dari Pondok Pesantren Buntet. Dalam bimbingan tersebut, ada seorang jemaah yang bertanya mengenai tarwiyah.

Kiai Aris menerangkan, pemerintah Indonesia sebetulnya tidak menganjurkan kalau ada jemaah yang melakukan tarwiyah. Pemerintah langsung melakukan wukuf di Arafah.

Hal itu dikarenakan wukuf terjadi pada masa sibuk, serta puncak dan inti ibadah haji.

"Pendistribusian jemaah haji yang normal dari 8 (Zulhijah) itu ada jemaah terakhir yang dievakuasi ke Arafah sampai jam 12 malam. karena giliran mobilnya," jelas Kiai Aris saat memberikan bimbingan ibadah, Selasa (21/6/2022). 

Mengenai tawaf, Aris menjelaskan tentang kebijakan tawaf di sekitar ka'bah hanya untuk mereka yang berpakaian ihram. Sementara, bagi yang tidak memakai pakaian disalurkan ke lantai atas Masjidil Haram.

"Ini adalah kebijaksaan yang dibuat oleh pemerintah Arab Saudi, sebagai dampak dari pandemi Covid-19," jelasnya.

Ia pun menyarankan, jemaah berdoa kepada Allah SWT agar mendapatkan pahala ketika mendapat larangan tidak bisa tawaf di depan ka'bah.

Salah seorang jemaah juga bertanya bagaimana supaya ketika ibadah di Masjidil Haram supaya tidak buang gas, mengingat luasnya bangunan masjid.

"Bagaimana agar di Masjidil Haram ini supaya tidak kentut (buang gas)? Lalu bagaimana kalau ibadah kita banyak makan, banyak minum?," tanya seorang jemaah.

Kiai Aris pun mengatakan, bila dokter menyuruh banyak makan dan minum karena memang suasana di Mekah mengharuskan demikian untuk kesehatan jemaah. 

"Tapi itu alami, asal jangan makan pedas saja," jawabnya. 

Ada pula usulan dari jemaah agar petugas memfasilitasi doa bersama agar bangsa Indonesia bisa maju, berkembang, dan aman, hingga usulan salat menggunakan batik.

"Bukan saya tidak setuju, cuma salat yang baik itu tidak pakai warna warni, alasannya pertama jangan sampai tidak membuat khusyuk orang yang dibelakangnya," jawab Kiai Aris.

Tidak hanya tanya-jawab, acara bimbingan ibadah turut diwarnai pantun yang disampaikan salah seorang petugas haji.

"Air zam zam sumber barokah, minum oralit sehatnya nambah, bapak-bapak ibu-ibu seluruh jemaah, tetap semangat untuk beribadah," tutur petugas. 

"Sayur asem pasti berkuah, semur jengkol bikin makannya nambah, memang seru ngaji sama jemaah, biar pun ngantuk tetap semringah," timpal petugas lagi. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar