Komnas Perempuan Pasang Badan untuk Gisel

Foto: ist

KBRN, Jakarta: Gisella Anastasia (GA) dan Michael Yukinobu Defretes (MYD) menjadi tersangka kasus pornografi gara-gara video mereka viral. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menilai Gisel dan Nobu tidak bisa dipidana.

"Merujuk kepada pengaturan dalam UU Pornografi, Komnas Perempuan berpendapat bahwa GA dan MYD semestinya tidak dapat dikenakan ketentuan pemidanaan, melainkan pengecualiannya," kata Komnas Perempuan, Kamis (31/12/2020).

Menurut Komnas Perempuan, Gisel dan Nobu tidak bermaksud membuat video dan menyebarluaskannya ke publik. Kasus serupa ini sudah sangat sering dilaporkan banyak pihak ke Komnas Perempuan.

"Sementara itu, sejak Januari hingga awal Oktober 2020, Komnas Perempuan telah menerima 659 kasus KSBG (Kekerasan Siber Berbasis Gender) di antaranya ancaman dan penyebaran konten intim. Pola kedua inilah yang menimpa GA (dan MYD). Dalam kasus GA dan MYD, keduanya melakukan hubungan seksual dan merekamnya tidak untuk ditujukan kepentingan penyebarluasan ke publik," jelas Komnas Perempuan.

Komnas Perempuan berpandangan, perekaman video untuk kepentingan diri sendiri tidak dipidana, melainkan dikecualikan dalam UU Pornografi. Berikut ini isi Pasal 4 dalam UU Pornografi:

(1) Setiap orang dilarang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi yang secara eksplisit memuat:

a. persenggamaan, termasuk persenggamaan yang

menyimpang;

b. kekerasan seksual;

c. masturbasi atau onani;

d. ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan

ketelanjangan;

e. alat kelamin; atau

f. pornografi anak.

Pasal 4 Ayat (1)

Yang dimaksud dengan "membuat" adalah tidak termasuk untuk dirinya sendiri dan kepentingan sendiri.

Komnas Perempuan sendiri berpendapat UU Pornografi sebenarnya menyimpan masalah sejak awal pembentukannya. Namun demikian, ada pasal pengecualian di UU Pornografi yang melindungi pihak seperti Gisel dan Nobu, yang membuat video untuk kepentingan sendiri. Berikut adalah rekomendasi Komnas Perempuan.

Komnas Perempuan merekomendasikan:

1. Kepolisian Republik Indonesia untuk:

a. Memfokuskan dan menyegerakan penanganan penyebaran video bermuatan intim

ini pada proses hukum dari pihak yang melakukan penyebarannya,

b. Menghentikan penyidikan pada pihak yang dirugikan atas penyebarluasan muatan intim yang dimaksudkan untuk diri sendiri dan kepentingan sendiri, yang sesuai dengan ketentuan hukum bukanlah merupakan tindak pidana,

c. Mengembangkan kebijakan dan program penguatan kapasitas dalam penanganan kasus perempuan berhadapan dengan hukum agar peka pada persoalan kekerasan berbasis gender, terutama dalam perkembangan kekerasan seksual di ranah siber sehingga dapat memberikan perlindungan hukum pada pihak yang mengalami pelanggaran hak privasinya;

2. DPR RI agar merevisi UU No. 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi untuk memutus keberulangan kriminalisasi dan atau reviktimisasi korban dan menguatkan tanggung jawab negara atas pemulihan korban;

3. Media massa agar menghindari bias gender dalam penyajian berita dan tidak menjadikan kasus berdimensi seksualitas untuk menaikkan jumlah pengunjung, dengan cara a.l.:

a. Menggunakan inisial untuk para tersangka baik laki-laki maupun perempuan,

b. Tidak mengaitkan dengan perannya sebagai ibu atau istri, dengan demikian

menghindari dampak negatif terhadap tumbuh kembang anak GA,

c. Memusatkan perhatian pada kasus-kasus urgen yang membutuhkan atensi publik

seperti penanganan pandemi Covid19, korupsi, perbaikan sistem hukum, dan lain-lain;

4. Warganet agar menghentikan penyebaran konten intim dan lebih selektif dalam membagikan postingan-postingan media sosial untuk menghindari reviktimisasi korban.

Polisi sudah menyatakan Gisel dan Nobu tetap diproses secara hukum. Soalnya, video mereka berdua sudah menjadi konsumsi publik.

"(Pengakuan merekam) Untuk konsumsi pribadi, tetapi masalahnya ini sudah tersebar ke mana-mana dan menjadi konsumsi publik," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus, saat dihubungi detikcom, Rabu (30/12/2020).

Menurut Yusri, ada perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh Gisel dan Michael Yukinobu Defretes dalam kasus video syur ini. Gisel sendiri bukan hanya merekam, tetapi mengirimkan video itu kepada Michael Yukonobu Defretes.

"Perbuatannya yang pertama dia melakukan pornografi, dia memvideokan, kemudian dia mengirimkan video itu ke MYD," katanya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar