Gories- Karni Tidak Terkait Tanah Labuan Bajo

KBRN, Jakarta: Kuasa Hukum Ahli Waris Lahan Labuan Bajo Abdullah Tengku Daeng Malewa, Muhammad Achyar, membantah adanya pemeriksaan terhadap mantan staf khusus presiden Gories Mere (GM) dan wartawan senior Karni Ilyas (KI) oleh Tim Penyidik Tindak Pidana Khusus (Tipidsus) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Nusa Tenggara Timur (NTT) diduga berkaitan dengan perjanjian jual-beli tanah di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat. 

Achyar menegaskan tanah para ahli waris Daeng Malewa total luas kurang lebih 5 hektar sempat dibeli oleh Gories Mere dan Karni Ilyas, namun pembelian tersebut menjadi batal lantaran sampai tahun 2018 tidak terbit sertifikat hak milik atas bidang tanah tersebut.

“Belum tahu Pak Gories dan Pak Karni dipanggil untuk diperiksa sebagai saksi dalam hubungan apa dengan masalah tanah Pemda Manggarai Barat itu,” terang Achyar, saat dikonfirmasi, Jumat (4/12/2020).

“Perjanjian jual beli itu telah batal, karena ternyata sampai Tahun 2018 tidak terbit sertifikat hak milik atas bidang tanah tersebut. Jadi, tidak ada tanah Pak GM dan Pak KI di lokasi tersebut,” imbuh Achyar.

Sementara itu, Kuasa Hukum H. Adam Djudje, Gabriel Mahal menegaskan Gories Mere dan Karni Ilyas sama sekali tidak ada kaitannya dengan klaim tanah, H. Adam Djudje yang juga diklaim sebagai tanah Pemda itu. Dia juga mendapat informasi bahwa tanah tersebut dijual oleh para ahli waris, Abdullah Tengku Daeng Malewa, kepada seseorang bernama David.

“Jadi, berdasarkan fakta-fakta itu, saya tidak melihat adanya relevansi pemanggilan, Pak Karni Ilyas dan Pak Gories Mere, sebagai saksi dalam masalah tanah Pemda Mabar yang diduga ada tindak pidana korupsi aset tanah Pemda Mabar tersebut,” tegas Gabriel Mahal.

Sebelumnya, diberitakan bahwa Gories Mere dan Karni Ilyas terseret dalam dugaan korupsi aset negara di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, karena sempat membeli tanah tersebut, dengan total kerugian negara mencapai sebanyak Rp 3 triliun. Bahkan tim penyidik Tindak Pidana Khusus (Tipidsus) Kejati NTT telah mengirimkan surat pemanggilan pertama kepada Gories Mere dan Karni Ilyas untuk diperiksa sebagai saksi dalam kasus tersebut, serta telah menyita uang sebesar Rp140 juta yang diduga sebagai uang pelicin untuk memperlancar proses penjualan aset tanah milik Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat itu.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00