Aksi Penuntutan Dana Hibah Persiba Kepada Rakyat

KBRN, Yogyakarta: Sebuah cara unik dilakukan pegiat anti korupsi menghadapi pasca putusan Pengadilan Negeri (PN) Bantul menolak gugatan penggugat mantan Bupati Bantul periode 1999 – 2010, Idham Samawi. Itu, lewat vonis, pada Kamis (15/10/2020) lalu.

Gerakan Peduli Amanat Rakyat (Geplak) Masyarakat Transparansi Bantul (MTB), dan sejumlah elemen antikorupsi lainnya melakukan prosesi syukuran dengan memotong tumpeng di Pantai Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta hari ini, Kamis (22/10/2020).

“Beberapa waktu yang lalu, sekitar satu pekan yang lalu, kita sudah mengikuti proses persidangan, yang hasilnya adalah tidak mengabulkan gugatan dari Idham Samawi terkait dana hibah Persiba sebesar Rp11.6 miliar,” ujar Koordinator Geplak, Sigit  Harsito Putra kepada awak media.

Sebagai bentuk perasaan syukur bagi warga Bantul, para pegiat antikorupsi ini menendang bola plastik ke pantai menandakan simbol menentang korupsi APBD Bantul tahun 2011 silam.

Mereka menolak korupsi dana hibah bagi KONI Bantul diselewengkan bagi pendanaan klub Persiba Bantul.

Sigit menuturkan, kegiatan itu dilakukan sebagai bentuk rasa syukur, atas putusan majelis hakim PN Bantul menolak gugatan penggugat Idham Samawi.

“Atas gugatan itu, alhamdulillah Pemkab Bantul untuk sementara waktu menang, walaupun nanti akan ada banding. Kita tidak boleh terlena, dalam hal ini masyarakat Bantul, di gugatan kedua nanti kita masih butuh support dari warga Bantul. Kenapa saya atasnamakan warga Bantul? Karena ini berkaitan dengan rakyat Bantul, uang negara,” kata Sigit.

Sigit Harsito Putra menyatakan, aksi para pegiat antikorupsi murni sebagai bentuk rasa syukur, dan tidak ada tendensi politik apapun, meski saat ini tahapan Pilkada Serentak 2020 telah berjalan, alias tahun politik.

“Kalau di media sosial seperti Facebook, Twitter dan lainnya, kalau kita bicara masalah dana hibah Persiba, sering dikaitkan dengan Pilkada. Maka, saya tegaskan ini tidak kaitannya dengan calon tertentu. Baik itu Pak Harsono (Suharsono) atau Pak (Abdul) Halim,” tegas Sigit.

Pria yang juga akrab disapa Genjreng itu menambahkan, Geplak dan pegiat antikorupsi lainnya tidak ingin dikait-kaitkan dengan situasi politik saat ini.

"Gerakan moral yang dilakukan murni agar pengelolaan pemerintahan dan anggaran negara dapat dimaksimalkan untuk kepentingan rakyat. Dengan tegas saya katakan, saya dan Geplak tidak ingin dipolitisir. Ini murni gerakan rakyat dan gerakan penyelamatan rakyat,” ungkap dia.

Geplak juga menyerukan siapa pun yang terpilih dalam kontestasi Pilkada tahun ini harus mengamankan uang korupsi dana hibah yang telah dikembalikan mantan bupati ke kas daerah.

Terlebih lagi, sosok mantan bupati yang kini menjabat sebagai seorang legislator di DPR RI itu masih bernafsu untuk menarik kembali dana hibah. Sebab, sempat tersiar kabar dikembalikan ke dalam kas Pemkab Bantul.

“Siapa pun nanti yang nanti, yang terpilih jadi bupati, wajib mempertahankan uang sebesar Rp11.6 miliar itu yang sekarang posisinya ada di kas daerah. Jangan sampai nanti, siapa pun yang terpilih kemudian mencairkan uang itu kepada pihak penggugat, dan kita sebagai rakyat tidak tahu,” terangnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00