Penyuap Bupati Sidoarjo Dijebloskan ke Lapas Surabaya

Terpidana kasus suap Bupati Sidoarjo Ibnu Ghofur di KPK.(Dok.Antara Foto/Imam Monang Sinaga)

KBRN, Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengeksekusi terpidana kasus penyuap mantan Bupati Sidoarjo (Jawa Timur) non aktif Saiful Illah, yakni Ibnu Ghofur ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas I Surabaya, Jawa Timur (Jatim), Selasa (11/8/2020).

Pelaksana Tugas (Plt) Juru Bicara KPK Ali Fikri mengatakan, pelaksanaan proses eksekusi itu berdasarkan putusan telah berkekuatan hukum tetap atau incracht.

Ali menjelaskan, jaksa pengeksekusi adalah Josep Wisnu Sigit dan Dormian. Mereka, kata dia, telah melaksanakan putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Surabaya Nomor: 15/PID.SUS/TPK/2020/PN. SBY tanggal 29 Mei 2020 atas nama terdakwa Ibnu Ghofur.

“Dengan cara memasukkan (menjebloskan, red) terpidana (Ibnu Ghufron) ke Lembaga Pemasyarakatan Klas I Surabaya di Porong untuk menjalani pidana penjara selama 1 tahun dan 6 bulan," kata Ali Fikri kepada wartawan di Jakarta, Selasa (11/8/2020). 

Menurut Ali, terpidana Ibnu Ghofur dinyatakan telah terbukti dan diputus bersalah melakukan tindak pidana korupsi karena memberikan suap kepada Saiful Ilah. 

Suap tersebut bertujuan agar perusahaan milik Ibnu Ghofur dimenangkan dalam proses tender empat proyek infrastruktur pada Dinas PUPR Pemerintah Kabupaten (Pemiab) Sidoarjo, Jawa Timur.

“Terpidana (Abdul Ghofur)  juga dibebani pidana denda sebesar Rp100 juta subsider 3 bulan kurungan," jelas Ali. 

Dalam kasus ini, penyidik KPK telah menetapkan lima orang lainnya sebagai tersangka dalam kasus tersebut.

Lima tersangka itu adalah Saiful Ilah (Bupati Sidoarjo) dan Sunarti Setyaningsih (Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga dan Sumber Daya Air Kabupaten Sidoarjo).

Kemudian, lanjut dia, Judi Tetrahastoto (Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga, dan Sumber Daya Air Kabupaten Sidoarjo), Sangadji dan Totok Sumedi (Kepala Bagian Unit Layanan Pengadaan Sanadjihitu sebagai kontraktor pengerjaan proyek). 

Dalam konstruksi perkara dijelaskan, bahwa pada 2019, Dinas PU dan BMSDA Kabupaten Sidoarjo melakukan pengadaan beberapa proyek. Ibnu adalah salah satu kontraktor yang mengikuti pengadaan untuk proyek proyek tersebut.

Ibnu meminta kepada Saiful untuk tidak menanggapi sanggahan tersebut dan memenangkan pihaknya dalam proyek Jalan Candi-Prasung senilai Rp21.5 miliar.

Sekisar Agustus-September 2019, Ibnu melalui beberapa perusahaan memenangkan empat proyek. Keempat proyek itu terdiri dari proyek Pembangunan Wisma Atlet senilai Rp13.4 miliar, proyek pembangunan Pasar Porong Rp17.5 miliar, proyek Jalan Candi-Prasung senilai Rp21.5 miliar, dan proyek peningkatan Afv. Karag Pucang Desa Pagerwojo Kecamatan Buduran senilai Rp5.5 miliar.

Penerimaan tersebut sudah terjadi sebelum dilakukan penindakan di lapangan yaitu Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang  dilakukan KPK,  pada 7 Januari 2020.

Kabag ULP diduga telah menerima uang sebesar Rp300 juta pada akhir September 2019. Sebanyak Rp200 juta diantaranya diberikan kepada Saiful ,pada Oktober 2019.

Kemudian penerimaan PPK sebesar Rp240 juta kepada Sunarti selaku Kadis PU dan BMSDA sebesar Rp200 juta, pada 3 Januari 2020.

Ibnu Ghofur saat itu telah menyerahkan "commitment fee" proyek kepada Saiful sebesar Rp350 juta dalam tas ransel melalui ajudan Saiful. Penyerahan uang itu dilakukan di rumah dinas atau pendopo Bupati Sidoarjo, Jatim.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00