Kerangkeng Langkat, Polisi Tawarkan Rehab BNN

Karopenmas Mabes Polri, Brigjen Ahmad Ramadhan (Dok. Istimewa)

KBRN, Jakarta: Para keluarga dari warga binaan kerangkeng rumah Bupati Langkat memilih untuk merawat  sanak saudara ataupun anaknya di kediaman masing-masing. Padahal, dari pihak kepolisian telah menawarkan kembali untuk perawatan rehabilitasi narkoba oleh BNN.

“Sudah dikembalikan ke keluarga, karena memang dibina ya kita tawarkan tempat rehabilitasi yang resmi di bawah BNN, tapi kita tidak bisa memaksa. Namun orang tua nya memilih mengembalikan ke rumah,” ujar Karopenmas Mabes Polri, Brigjen Ahmad Ramadhan, di Mabes Polri, Rabu (26/1/2022).

Sejauh ini, polisi mengetahui kerangkeng itu merupakan tempat penampungan orang-orang yang kecanduan narkoba. Selain pecandu narkoba, disebut juga menampung anak-anak yang terlibat dalam kenakalan remaja.

“Kami sedang melakukan pendalaman apakah ada unsur pidananya atau tidak,” kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Sumatera Utara (Sumut) Komisaris Besar Hadi Wahyudi, saat dikonfirmasi, Senin (24/1/2022).

Kerangkeng manusia itu ditemukan saat Kepolisian mendampingi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Terbit. Berdasarkan penelusuran tim penyidik, ada dua blok di rumah Terbit Rencana Perangin-angin yang dibuat kerangkeng dengan luas enam meter persegi.

“Memang betul, ada kerangkeng manusia di kediaman yang bersangkutan,” ucap Hadi.

Terkait temuan kerangkeng ini, Migrant Care telah melaporkan dugaan perbudakan ke Komnas HAM. Para pekerja itu dipekerjakan di kebun kelapa sawit milik Terbit selama 10 jam setiap harinya. 

Mereka bekerja mulai dari jam 8 pagi sampai jam 6 sore. Setelah bekerja, mereka dimasukkan ke dalam kerangkeng/sel dan tidak punya akses ke mana-mana

"Setiap hari mereka hanya diberi makan 2 kali sehari. Selama bekerja mereka tidak pernah menerima gaji," ujar Ketua Pusat Studi Migrasi Migrant Care Anis Hidayah.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar