Penganiaya Det Collector Divonis 4 Tahun Penjara

Suasana persidangan kasus penganiayaan debt collector di Pengadilan Negeri Tangerang

KBRN, Tangerang : Pengadilan Negeri Tangerang memvonis lima terdakwa yang melakukan penganiayaan terhadap debt collector hingga tewas empat tahun penjara. 

Mereka yakni, EA, EB, MS, A dan SNM, warga Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang dan peristiwa itu terjadi pada 8 April 2021 silam. 

"Menyatakan kelima orang tersebut telah terbukti secara sah melakukan tindak pidana secara terang terangan yang telah menyebabkan meninggal dunia. Terdakwa dituntut empat tahun penjara dan dietapkan untuk berada diruang tahanan," ungkap Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tangerang, Fathul Mujib yang fdidampingi Hakim Anggota, Arief Budi Cahyono dan Komarudin Simanjuntak saat diliput rri.co.id, Senin (24/1/2022). 

Dalam persidangan ini juga, Fathul Mujib, membenarkan terdapat sebilah pisau yang dibawa oleh korban W dalam melakukan penagihan sebagai debt collector. "Korban mengambil sebilah pisau di pinggang sebelah kiri," sebutnya. 

Sementara, kekuarga terdakwa berinisial DR menyatakan, penganiayaan ini bukan tanpa alasan, namun terjadi akibat tingkah arogansi W dan H yang merupakan penagih hutang alias debt collector 

"Mereka awalnya datang kerumah Bapak EA, keluarga kami. Mereka bilang mau menagih hutang, tapi semua orang dirumah tersebut diancam, padahal sudah bilang Pak EA-nya engga ada," ujarnya usai persudangan. 

Kata DR, bukan hanya melakukan pengancaman, kedua orang tersebut juga melakukan pengrusakan. "Mereka juga ngancam. Terus, mereka pergi ke gudang bapak (EA, Red)," terangnya. 

Tidak sampai disitu, kedua orang penagih hutang tersebut juga melakukan teror yang sama di gudang milik EA. Bahkan ketegangan terjadi di lokasi tersebut. "Digudang itu baru keributan terjadi. Rupanya salah satu dari penagih hutang itu membawa pisau, dan mungkin karena ramai dan mau membela diri makanya terjadi pengeroyokan, pisau milik debt colektor itu juga kita sudah serahkan ke pihak kepolisian," jelasnya. 

Namun, akibat luka serius dalam pengeroyokan tersebut, W akhirnya tewas di rumah sakit. "Kami juga yang bawa korban ke rumah sakit. Tetapi memang sudah tidak tertolong," tukasnya. 

Terpisah, dijumpai didepan ruang sidang H seorang rekan W yang mendatangi sidang putusan tersebut mengaku, hanya melakukan tugasnya. "Kita cuma nagih. Kita juga bawa invoice hutang Pak EA" terangnya. 

Meskipun dirinya sempat berkilah terkait penggunaan sajam yang dilakukan saat penagihan, dirinya tidak memungkiri jika terdapat pengancaman dalam peristiwa tersebut. 

"Kita engga pernah bawa pisau, kalau pengancaman memang logat korban seperti itu dan benar," tuntasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar