Sempat Buron, Bos Robot Trading Evotrade Ditangkap

Ilustrasi Robot Trading (Dok. Istimewa)

KBRN, Jakarta: Tim penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri menangkap pemilik PT Evolution Perkasa Grup, Andi Muhammad Agung Prabowo. Bos pembuat membuat aplikasi robot trading Evotrade itu sebelumnya buron dan masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

Selain menangkap tersangka, polisi juga menyita sejumlah barang bukti dari pemilik investasi bodong tersebut. Seperti, uang senilai 1.150 Dollar Singapura, seribu lembar uang pecahan Rp100 ribu, dan tiga telepon genggam milik tersangka.   

“Jadi, telah dilakukan penangkapan terhadap tersangka Andi Muhammad Agung Prabowo pada Kamis (20/1) pukul 16.00 WIB,” kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri, Brigadir Jenderal Whisnu Hermawan, kepada wartawan, Senin (24/1/2022).

Polisi masih mengejar sejumlah aset-aset milik tersangka. Besar harapan, aset-aset tersebut akan mengembalikan kerugian para nasabah yang bergabung di Evotrade.

Selain aset-aset tersebut, tim penyidik masih memburu Anang Diantoko yang merupakan pemilik aplikasi robot trading Evotrade.   

Total sudah ada lima tersangka yang ditangkap polisi. Selain Andi Muhammad, tersangka lain yang telah ditangkap adalah AK (42) selaku Direktur Utama PT Evolusion Perkasa Group. D (42) pengurus akta atau perizinan perusahaan Evolusion Perkasa Group.

DES (27) selaku pemilik rekening penampungan dari member Evotrade. Terakhir, MS (26) selaku kepala admin sekaligus merakap deposit para member dan menyetujui dana di withdrawel member. 

Tim penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri membongkar kasus investasi penjualan aplikasi robot trading ilegal bernama Evotrade. Aplikasi tersebut dijalankan PT Evolusion Perkasa Group dengan menggunakan skema investasi bodong klasik, yakni Skema Ponzi.

Kasus ini terungkap berawal dari laporan masyarakat terhadap PT Evolusion Perkasa Group. Laporan itu menunjukkan perusahaan Evolusion Perkasa Group tidak memiliki izin dari Kementerian Perdagangan. 

Padahal, praktik jual beli yang dilakukan perusahaan tersebut masuk dalam kategori berisiko tinggi. (imr)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar