Pencegahan dan Penindakan, Sinergi Untuk Berantas Korupsi

Foto: ilustrasi

KBRN, Jakarta: Peneliti Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat) Universitas Gadjah Mada (UGM), Zainur Rohman menyebut, pencegahan dan penindakan adalah sinergi untuk memberantas korupsi.

"Setiap penindakan itu diikuti dengan pencegahan, tidak ada perbaikan sistem berhasil tanpa shock therapy," ucapnya kepada Pro 3 RRI, Kamis (20/1/2022). 

Menurutnya, beberapa daerah terjadi tindak pidana berulang. Sehingga harus dilakukan perubahan sistem.

"Apakah penganggaran, pengisian jabatan, atau pemberian perizinan, eksekutif dan legislatif," tambahnya. 

Ia menyebut, penindakan hanya mengirim orang ke penjara.

"Penindakan jadi shock therapy, setelah itu diikuti perubahan sistem, karena zona nyaman dan menguntungkan, shock therapy berupa penindakan setelah itu sangat penting, tambahnya.

Diketahui, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) setidaknya sudah melakukan empat operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan pada awal 2022.

Keempat OTT tersebut dilakukan terhadap Wali Kota Bekasi, Jawa Barat, Rahmat Effendi (RE) dan kawan-kawan, Rabu (5/1/2022). Bupati Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Abdul Gafur Mas'ud (AGM) dan kawan-kawan, Rabu (12/1/2022).

Bupati Langkat, Sumatera Utara Terbit Rencana Perangin Angin (TRP) dan kawan-kawan, Selasa (18/1/2022). Dan terbaru KPK melakukan OTT di Surabaya hari ini, Kamis (20/01/2022).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar