Kekerasan Terhadap Perempuan-Anak Naik di Kalteng

Ilustrasi kekerasan terhadap perempuan dan anak (Dok. cnnindonesia)

KBRN, Palangka Raya: Berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3APPKB) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), selama periode 2020 hingga Maret 2021, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak berjumlah 55 kasus.

Faktor kekerasan terhadap perempuan dan anak hingga kini memang sebagian belum terungkap akibat korban malu atau masih terikat etika tabu untuk melaporkan hal seperti itu.

Apalagi jika kejadian melibatkan orang terdekat, lingkungan sekitar, bahkan sering pula meski tindakan kekerasan itu dari orang tak dikenal, tapi korban memilih diam akibat rasa malu dan tabu itu tadi.

Menanggapi hal ini, Dosen Bimbingan dan Konseling Universitas Muhammadiyah Palangka Raya, Karyanti, mengatakan, bila melihat kasus kekerasan pada perempuan dan anak tahun 2021 ini bertambah parah.

Menurut dia, banyak hal yang mempengaruhinya, baik dari media sosial hingga warga yang tinggal di lokasi kejadian.

"Diperlukan pengetahuan positif akan dampak negatif yang ditimbulkan dari tindakan kekerasan tersebut agar tidak terulang atau kembali dicontoh oleh masyarakat," jelas Karyanti di Palangka Raya, seperti dikutip RRI.co.id, Minggu (17/10/2021).

Sementara itu Aktivis Perempuan dan Anak, Widya Kumala Wati, juga mengatakan, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak hingga tahun ini masih banyak terjadi.

Untuk kasus kekerasan terhadap anak sudah banyak terekspos media, sementara untuk kasus kekerasan terhadap perempuan, khususnya Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), masih relatif sedikit yang terekspos.

Dirinya mengimbau kepada orang tua, apabila menemui tindakan kekerasan terhadap anak, khususnya tindakan asusila, sebaiknya segera melaporkannya kepada pihak berwajib.

Demikian pula bagi kaum perempuan yang kerap menjadi korban KDRT atau pelecehan seksual.

"Kasus kekerasan terhadap perempuan relatif banyak, namun KDRT juga masih kurang terekspos. Kalau kekerasan terhadap anak sudak banyak dilaporkan apalagi sekarang telah ada undang-undang perlindungan anak," kata Widya Kumala Wati.

Era pandemi, menurut Widya, kekerasan terhadap perempuan dan anak tetap terjadi, sangat banyak jumlahnya, namun banyak pula yang tak terlihat akibat korban tidak melaporkannya. (Miechell Octovy Koagouw)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00