Penganiayaan Muhammad Kece, Pintu Sel Tidak Digembok

Eks Kadivhubinter Polri, Irjen Pol Napoleon Bonaparte (Dok. Antaranews/AntaraFoto)

KBRN, Jakarta: Bareskrim Polri menerangkan, kejadian penganiayaan terhadap Muhammad Kece oleh Napoleon Bonaparte lantaran permintaan tidak mengunci pintu tahanan dengan gembok standar.

Permintaan itu dilontarkan oleh Napoleon Bonaparte yang adalah seorang pejabat tinggi (pati) dengan bintang dua dan masih aktif di Korps Bhayangkara kepada sang penjaga yang merupakan seorang Bintara.

“Ya kita tahu bersama yang jaga tahanan itu kan pangkatnya bintara. Sementara pelaku ini Pati Polri ya. Dengan dia meminta supaya tidak usah menggunakan gembok standar itu pasti dituruti oleh petugas jaga,” tutur Dirtipidum Bareskrim Polri, Brigjen Andi Rian, saat dihubungi RRI.co.id, Selasa (21/9/2021).

Penanganan terhadap kasus ini pun sudah dalam tahap penyidikan dengan pemeriksaan terhadap belasan saksi.

Bareskrim Polri akan melakukan gelar perkara kasus tersebut untuk menetapkan tersangka.

“Status penanganan sudah sidik. Sebelum tetapkan tersangka kita periksa saksi-saksi. Sampai hari ini penyidik saya sudah lakukan pemeriksaan terhadap saksi paling tidak 13 orang. Setelah semua lengkap akan gelar perkara untuk lihat apakah dua alat bukti sudah ada untuk menetapkan terlapor sebagai tersangka,” ucap Andi Rian.

BACA JUGA: Aniaya Muhammad Kece, Napoleon Dibantu Tiga Orang

Kejadian penganiayaan terhadap Muhammad Kece yang dilakukan oleh Napoleon Bonaparte, tidak dilakukan seorang diri.

Napoleon melakukan tindakan tersebut bersama tiga orang lainnya.

“Yang tiga orang lainnya ini hanya digunakan, untuk memperkuat, kalau bisa saya katakan hanya untuk memperlemah kondisi psikologis daripada korban,” jelas Andi Rian.

Napoleon Bonaparte melakukan tindakan bersama tiga orang itu dalam rangka menahan korban, supaya Muhammad Kece tidak bisa melakukan perlawanan apapun.

“Jadi pada saat NB melakukan pemukulan dan melakukan perbuatan melumuri kotoran atau dengan tinja, itu si korban tidak melakukan perlawanan apa-apa,” tuturnya.

Tiga orang yang membantu Napoleon Bonaparte dalam melakukan tindakan tersebut adalah para narapidana.

Mantan anggota organsiasi Front Pembela Islam (FPI) merupakan salah satu di antara tiga orang tersebut.

Dua lagi adalah tahanan dalam kasus pidana umum terkait masalah pertanahan.

Sementara, waktu kejadian yang menimpa tersangka kasus penodaan agama, Muhammad Kece di Rutan Bareskrim Polri, tidak hanya penganiayaan semata, melainkan diikuti perlakuan tidak menyenangkan yakni melumuri wajah dengan kotoran manusia oleh terpidana penerima suap dari buronan Djoko Tjandra, Irjen Napoleon Bonaparte.

Dirtipidum Bareskrim Polri, Brigjen Pol Andi Rian Djajadi mengatakan, bahwa kejadian tersebut sekitar pukul 00.30 WIB hingga 01.30 WIB, di tanggal 26 Agustus 2021.

Dugaan pemilihan waktu tersebut supaya tindakan penganiayaan itu tidak diketahui oleh petugas jaga.

“Kejadian jam 00.30-01.30 dinihari tanggal 26 Agustus 2021. Korban MK masuk kamar pukul 22.00 WIB, pelaku memilih waktu tersebut tentu untuk menghindari diketahui petugas,” kata Andi Rian saat dikonfirmasi, Selasa (21/9/2021). (Miechell Octovy Koagouw)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00