Kearifan Lokal Cegah Paham Radikal, Ini Alasannya

Kepala subdirektorat Kontra Propaganda BNPT Kolonel Sujatmiko saat memaparkan pentingnya mempertahankan kearifan lokal menangkal paham radikalisme (RRI)

KBRN, Palu – Budaya dan kearifan lokal penting untuk dilestarikan, selain untuk kepentingan Pariwisata namun juga untuk menangkal paham radikal.

Hal itu disampaikan Kepala subdirektorat Kontra Propaganda BNPT Kolonel TNI Sujatmiko dalam sebuah acara di Palu baru-baru ini.

Ia mengatakan, salah satu cara yang dianggap paling efektif terkait cara menangkal paham radikal di tengah- tengah masyrakat, yakni dengan melibatkan unsur kearifan lokal.

Hal itu bahkan sudah melalui kajian Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) yang dilakukan sebelumnya.

“ Ini penting, karena hasil dari penelitian FKPT bahwa signifikasi yang paling tinggi dalam mencegah paham radikalisme itu, justru melalui pendekatan kearifan lokal “ ungkapnya  

Cara tersebut, lanjut Sujatmiko, cukup efektif terlebih jika masuk ke wilayah yang unsur keadatan maupun ketentuan budayanya masih sangat melekat bagi setiap generasinya.

Karena hal itu, keberadaan unsur kebudayaan penting untuk terus dijaga dan juga dilestarikan. Tidak hanya bagi kepentingan Pariwisata namun juga untuk menangkal paham radikal.

Terkait hal itu Guru Besar Pemikiran Islam Modern UIN Datokarama Palu, Sulawesi Tengah, Prof Zainal Abidin menyatakan perlu mengintegrasikan kearifan lokal dan agama untuk pencegahan tumbuh dan berkembangnya faham dan gerakan intoleransi, radikalisme dan terorisme.

"Salah satu yang harus dilakukan dalam upaya pencegahan/menangkal radikalisme dalam spirit kebhinnekaan dan keagamaan yaitu menumbuhkembangkan dan mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal dalam pengamalan ajaran agama," kata Prof Zainal Abidin di acara yang sama seperti dilansir Antara.

Prof Zainal yang juga Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulteng itu menyatakan nilai-nilai tersebut sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran agama apa pun.

Dalam konteks upaya pencegahan/menangkal radikalisme dalam spirit kebhinekaan dan keagamaan, dapat pula dilakukan dengan memberikan pembelajaran pada umat untuk membedakan antara substansi ajaran agama dengan manifestasi pelaksanaannya, membedakan antara isi dengan kulitnya.

"Perintah menutup aurat adalah substansi, manifestasinya dapat dilakukan dengan menggunakan sarung atau gamis atau apapun yang terpenting kriteria menutup auratnya terpenuhi," kata dia mencontohkan.

Prof Zainal yang merupakan deklarator perguruan tinggi melawan radikalisme di Nusa Dua, Bali tahun 2017 ini menegaskan perlu juga mengedepankan persamaan, bukan menggali perbedaan.

Hal itu karena dari sudut pandang dogmatis-teologis, setiap agama memiliki karakteristik yang khas dan membedakannya dari agama lain.

"Hal ini tergambar terutama pada tata cara beribadah atau sistem ritualnya masing-masing. Namun, dari segi pesan-pesan moral yang bersifat sosiologis, terlihat jelas adanya nilai-nilai humanis universal yang disepakati oleh semua ajaran agama," sebutnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar