Presiden Jokowi Akan Buka Forum GPDRR di Bali

Deputi Bidang Sistem dan Strategi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Raditya Jati. Ia menuebut Presiden Jokowi akan membuka forum GPDRR) 2022 di Bali hari ini.

KBRN,Badung: Presiden RI Joko Widodo dijadwalkan membuka Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) 2022 di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC) pada Rabu (25/5/2022).

Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan GPDRR 2022 di Bali untuk berkontribusi dalam menciptakan dunia yang lebih.

Terutama melalui pengarusutamaan Pengurangan Risiko Bencana, dari topik tata kelola dan pembiayaan risiko bencana serta pemulihan COVID-19.

Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) ke-7 akan berlangsung hingga 28 Mei 2022.

GPDRR merupakan forum multi-pemangku kepentingan yang diadakan oleh PBB untuk meninjau kemajuan, berbagi pengetahuan, dan mendiskusikan perkembangan terbaru dalam upaya pengurangan risiko bencana.

Deputi Bidang Sistem dan Strategi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Raditya Jati di Media Center GPDRR Bali, mengatakan, Presiden akan hadir dengan pejabat tinggi baik dari mitra internasional atau dalam negeri.

Raditya mengatakan, forum kebencanaan internasional menjadi kesempatan baik bagi Inodnesia untuk menyampaikan pada dunia bagaimana pengalaman Indonesia terkait kebencanaan yang pernah dilalui hingga penanganan Covid-19.

“Kita berbagi antar negara kita dengan Negara lain supaya kita saling memahami dan saling mendukung untuk kerjasama international dalam pengurangan resiko bencana,” ucapnya.

Raditya meyakini  keputusan-keputusan penting akan lahir dalam forum ini.

Selain itu, forum ini juga bisa menjadi salah satu kesempatan untuk saling berbagi, memahami dan mendukung upaya kerja sama internasional dalam pengurangan resiko bencana.

Dikatakan, terdapat tiga alasan Indonesia tertarik menjadi tuan rumah Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) 2022.

Diantaranya adanya komitmen bersama untuk membangun risiko menjadi resiliensi tidak saja pada pemerintah, tapi seluruh lapisan masyarakat.

"Tentunya ini menjadi salah satu komitmen tidak hanya dari pemerintah pusat, tapi juga kita melihat bahwa dari pemerintah lokal semangat untuk membangun resiliensi bangsa ini telah menjadi salah satu yang terbangun dalam komunitas kita,” imbuhnya.

Raditya menambahkan, lebih dari 98 persen kejadian bencana dipicu oleh kondisi hidrometeorologi atau faktor alam seperti banjir, tanah longsor, hingga angin puting beliung.

Belum lagi munculnya aktivitas seismitas atau peta aktivitas gempa yang membuat risiko terjadinya bencana semakin besar.

Selain itu kegiatan ini juga sebagai bagian dari upaya pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19 yang terjadi di dunia.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar