Tidak Menyerah! Murid Panjat Pohon Demi Sinyal

Perjuangan anak-anak murid di Simalungun, Sumatera Utara dalam mengikuti belajar daring atau Pendidikan Jarak Jauh. Mereka rela memanjat pohon demi mendapatkan sinyal yang sulit didapatkan di desa (Dok. Istimewa/FB Renni Rosari Sinaga/Seorang Guru)

KBRN, Jakarta: Belajar daring di masa pandemi Covid-19 memang sangat menguras waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit.

Tak sedikit murid dan orang tua bahu membahu melakukan apapun agar mereka tetap memperoleh pendidikan yang sama. 

Hal itu terlihat dari salah satu postingan di akun Facebook Renni Rosari Sinaga, seorang Guru yang bekerja di Dinas Pendidikan Pemerintah Kota Siantar, Sumatera Utara. 

Ia menceritakan tentang perjuangan murid-murid di Desa Bahpasunsang, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, yang harus berjalan 2 km dan panjat pohon demi mendapatkan sinyal untuk belajar online. 

Berikut penggalan dari unggahan Renni Rosari Sinaga:

"Untuk mencari SIGNAL mereka jalan kaki ke perbukitan hampir 2 km dari pemukiman.

Namun...covid 19 menempa mereka menjadi lebih giat dan tangguh...

MEREKA TIDAK MENYERAH..

Mereka tidak mengeluh...

Mereka tidak menyalahkan Gugus covid 19.Kab.Simalungun

Mereka tidak menyalahkan Pendidik dan Tenaga Kependidikan yg mengajar Daring dan telkonference

Para murid di Simalungun, rela belajar di alam terbuka dalam kebun sawit, demi mendapatkan sinyal (Dok. Istimewa/FB Renni Rosari Sinaga) 

Mereka tau covid 19 adalah bencana..ujian dari Yang Maha Kuasa...

Lalu apakah mereka pasrah saat SIGNAL tak ada di desa mereka ???

Tidak...

Mereka berjuang

Mereka memanjat pohon denga antrian 

Mereka menulis di rerumputan

Mereka melawan dingin dan cuaca yg kadang kurang bersahabat dengan situasi yg mereka hadapi..." tulis Renni seperti dikutip RRI.co.id dalam laman Facebook miliknya, Jumat (31/7/2020). 

Tetap lah berjuang...

Dan berdoa agar Corona segera berlalu...

Horas Horas Horas..

Selain itu, Renni juga menjelaskan, para pelajar yang terpaksa memanjat pohon tersebut adalah pelajar SMP hingga mahasiswa. 

Untuk siswa sekolah dasar belajar secara luring atau luar jaringan secara berkelompok.

Proses belajar mengajar langsung dikoordinasi pihak sekolah, demikian tulis Renni.  

Rasa syukur juga menyelimuti hati Renni ketika mengetahui bahwa pemilik kebun mengijinkan anak-anak itu untuk tetap berkomunikasi secara online di pekarangannya.

Ia juga salut dengan orang tua mereka yang mampu membelikan Android dan kuota internet, meski hanya berprofesi sebagai petani.  

Anak-anak petani di Simalungun, Sumatera Utara, tetap belajar walau harus di alam terbuka demi kelancaran sinyal internet (Dok. Istimewa/FB Renni Rosari Sinaga)

Terakhir, Renni berpesan kepada murid-murid yang sedang menempuh pembelajaran jarak jauh. 

"Tetaplah berjuang, dan berdoa agar Corona segera berlalu. Horas..Horas.. Horas," kata Renni. 

Berikut unggahan Renni secara lengkap: 

KAMI BISA 

KAMI  BERJUANG

PANTANG MENYERAH..

Nun...jauh disana..

Di apit gunung Simarsuppit  dan gunung Simarsolpah...Kec.Raya berjarak  lebih kurang 19 km dari Ibu kota Kabupaten Simalungun

Ada sebuah desa kecil Nama nya BAHPASUNSANG.Penduduk nya lebih kurang 100 KK

Nah desa Bahpasunsang menjadi topik ceritaku ini..

Aku bercerita BUKAN tentang ke asrian desa itu..Bukan tentang bening nya Bahkulistik dan Bah bolon di pinggiran desa itu.Bukan tentang Bah Si Dua Ruang tempat istirahat nan teduh.

Aku juga bukan bercerita tentang banyak nya bencana longsor  yg membuat akses lalu lintas yang amat "payah" menuju desaku BAHPASUNSANG yg berada di antara Sondi Raya dan Sindaraya

Aku bercerita tentang ANAK BANGSA yg ada di desa itu. Di Desa Bahpasunsang hanya ada satu gedung Sekolah Dasar. Di masa Pendemi ini siswa siswi SD tidak belajar di gedung Sekolah.Mereka taat aturan walau mereka bermukim di kelilingi hutan.

Dan tetap belajar dengan luring..secara berkelompok dan mengikuti protokol kesehatan yg atur oleh Kepala Sekolah nya Asni Selpiani Saragih Asni Marchello

Nah... Proses Belajar Mengajar SD...tidak ada kendala walau covid 19  masih berdampak

Lalu bagaimana denga SD.SMP dan Mahasiswa ???

Ini lah yg mau ku ceritakan:

Untuk mencari SIGNAL mereka jalan kaki ke perbukitan hampir 2 km dari pemukiman.Namun...covid 19 menempa mereka menjadi lebih giat dan tangguh...

MEREKA TIDAK MENYERAH..

Mereka tidak mengeluh...

Mereka tidak menyalahkan Gugus covid 19.Kab.Simalungun

Mereka tidak menyalahkan Pendidik dan Tenaga Kependidikan yg mengajar Daring dan telkonference

Mereka tau covid 19 adalah bencana..ujian dari Yang Maha Kuasa...

Lalu apakah mereka pasrah saat SIGNAL tak ada di desa mereka ???

Tidak...

Mereka berjuang

Mereka memanjat pohon denga antrian 

Mereka menulis di rerumputan

Mereka melawan dingin dan cuaca yg kadang kurang bersahabat dengan situasi yg mereka hadapi...

Ada rasa syukur ketika yg punya lahan dengan senang hati membiarkan mereka  'bertengger' di pohon durian nya tuk dapat berkomunikasi di dunia Daring..

Dengan Manderes dan bertani ,orangtua mere ka mampu membeli Android  dan Kuota...

Andai SIGNAL dapat di beli.... mereka pun pasti beli..

Kami ARBAB (Anak Rantau Bahpasunsang)

Tidak dapat berbuat banyak...

Pesan kami...

Tetap lah berjuang...

Dan berdoa agar Corona segera berlalu...

Horas Horas Horas..

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00