PSBB Minimal 3 Bulan, Seperti Jerman dan China

Warga berbelanja pakaian yang dijual pedagang kaki lima di atas trotoar Jalan Jati Baru Raya, Tanah Abang. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/wsj).

KBRN, Jakarta: Presiden Joko Widodo menegaskan jika ia belum ingin mengeluarkan kebijakan relaksasi atau pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Indonesia. Hal tersebut ditegaskan Jokowi karena adanya kabar jika pemerintah akan mulai memberikan kelonggaran pada beberapa sektor untuk kembali beraktivitas normal.

"Pertama saya ingin tegaskan bahwa belum ada kebijakan pelonggaran PSBB, jangan muncul keliru ditangkap masyarakat pemerintah sudah melonggarkan PSBB, belum, belum ada kelonggaran PSBB," kata Presiden Jokowi di Istana Merdeka Jakarta, Senin (18/5/2020).

Namun, faktanya di beberapa wilayah seperti pasar Tanah Abang, Mall CBD Ciledug, dan di jalanan raya sudah nampak warga berbondong-bondong keluar dari rumah. Misalnya di Mall CBD Ciledug yang videonya viral di media sosial (medsos), nampak warga Ciledug berlari-lari memasuki mall tersebut untuk sekedar membeli baju untuk lebaran, padahal PSBB belum berakhir.

Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Dr. dr. Tri Yunis Miko Wahyono, M.Sc, mengatakan bahwa 1 orang dapat menularkan virus corona ke 4 orang lainnya, maka dari itu ia meminta agar pemerintah menyadarkan masyarakat bahwa relaksasi PSBB belum sah ditetapkan.

"Satu kasus dapat menularkan kepada satu kasus, namun kalau sekarang sebenarnya di dunia rata-rata satu kasus dapat menularkan kedua atau keempat orang," katanya kepada RRI, Rabu (20/5/2020).

Jika mall atau pusat perbelanjaan ingin dibuka, lanjutnya, pemerintah harus melakukan survei dan edukasi kepada masyarakat. Jika survei dilakukan secara setengah-setengah oleh pemerintah, maka kasusnya tidak akan selesai.

"Jadi setiap yang dibuka dilakukan survei dan dipastikan disitu bisa jaga jarak dan harus pakai masker. Nah, sekarang di pasar tradisional di Jakarta tidak dilakukan survei, ya jadi kasusnya tidak akan selesai. Semua  harus di survei, baik kepada penjual maupun pembeli, harus di survei berapa yang pakai masker atau bandel," katanya.

Ia juga meminta kepada pemerintah agar tidak memberikan harapan palsu kepada masyarakat karena PSBB sudah diterapkan 2 kali. Selain meminta hal itu, ia juga berharap Indonesia berkaca dari Negara China yang menimbang secara matang ketika mencabut kebijakan lockdown.

"Sadarkan kepada masyarakat, ini perlu waktu yang panjang untuk melakukan PSBB. Jadi harusnya paling tidak minimal 3 bulan sama dengan China dan Jerman, Jerman saja udah 2 bulan lockdown kemudian diperpanjang. Jadi jangan memberi harapan kosong kepada masyarakat sudah dua kali PSBB tidak sesuai juga, jadi PSBB hanya sebatas mengurangi transmisi pelan-pelan saja," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00